Brebes, kabarnujateng.com – Ketua Umum Asosiasi Ahli Falak Asia Tenggara (Southeast Asian Association of Islamic Astronomers/SAAIA), Prof. Dr. H. Ahmad Izzudin, menjadi narasumber utama dalam Seminar Nasional bertajuk “Mensikapi Dinamika Penentuan Awal Bulan Hijriyah di Indonesia dan Asia Tenggara”.
Kegiatan ini digelar oleh Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah sebagai rangkaian Dirasah Falakiyah 1 di Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Benda, Sirampog, Brebes, Sabtu (27/9/2025).
Seminar dihadiri para ahli falak, pengurus Lembaga Falakiyah PCNU se-Jawa Tengah, serta kader pesantren yang konsen mengembangkan ilmu falak. Topik utama yang dibahas adalah dinamika kriteria rukyat dan hisab yang berbeda antara Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura.
Dalam paparannya, Prof. Izzudin yang juga Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo menegaskan bahwa ilmu falak harus dipahami sebagai instrumen penting dalam mendukung ibadah, sehingga pelaksanaannya tepat waktu dan sesuai syariat.
“Perbedaan dalam penentuan awal bulan hendaknya disikapi dengan bijaksana, berbasis data observasi dan kajian ilmiah yang matang,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi modern perlu dimanfaatkan untuk memperkuat observasi hilal. Menurutnya, pemanfaatan instrumen ilmiah akan memastikan arah kiblat, waktu salat, dan awal bulan hijriyah lebih valid, sehingga umat memiliki dasar ibadah yang kokoh.
Lebih jauh, Prof. Izzudin mengingatkan agar dinamika perbedaan tidak dijadikan pemicu perpecahan, melainkan wadah dialog yang produktif.
“Ilmu falak harus menjadi alat pemersatu yang mengedepankan kemaslahatan dan keutuhan ibadah umat,” tegasnya.
Dengan kolaborasi lintas negara melalui SAAIA, diharapkan ke depan penentuan awal bulan hijriyah dapat semakin seragam dan akurat. Hal ini tidak hanya memperkuat pelaksanaan ibadah umat, tetapi juga mendorong kemajuan ilmu falak di Asia Tenggara yang tetap berpijak pada nilai-nilai syar’i. (Muhammad Miftahul Khoir)