MAGELANG – Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, memiliki tradisi unik yang menempatkannya sebagai salah satu pelopor dakwah berbasis budaya. Melalui perayaan Haflah Akhirussanah (khataman), pesantren yang didirikan oleh Almaghfurlah KH. Chudlori ini rutin menggelar Pawiyatan Budaya Agung, sebuah pekan seni yang melibatkan wayang kulit, ketoprak, hingga topeng ireng.
Tradisi ini bukan sekadar hiburan musiman, melainkan sebuah strategi dakwah yang memiliki “sanad” (rantai keilmuan) dan visi jangka panjang untuk menembus batas-batas masyarakat.
Ijtihad Dakwah Melalui Kesenian
KH. Chudlori dikenal sebagai ulama yang sangat memahami kultur masyarakatnya. Strategi beliau dalam merangkul kesenian, bahkan dengan menggelar pentas seni di lingkungan pesantren, adalah upaya untuk meniru ijtihad dakwah gurunya, Kyai Khozin Bendo Kediri, yang kala itu mengadakan tasyakuran kitab Ihya Ulumuddin dengan pagelaran dangdut.
Langkah ini menunjukkan pandangan progresif bahwa dakwah harus bersifat universal dan tidak eksklusif. Pesantren, dalam pandangan beliau, bukanlah entitas terpisah, melainkan bagian integral dari masyarakat yang harus berbaur dan memberi kontribusi nyata, terutama kepada mereka yang belum tersentuh ajaran agama.
Kearifan Lokal dan Prioritas Persatuan
Kearifan KH. Chudlori dalam mengutamakan persatuan sosial juga menjadi sorotan. Ada kisah unik tentang polemik prioritas antara membangun masjid dan membeli gamelan di masyarakat Desa Tepus.
Alih-alih memilih kepentingan formal keagamaan (masjid), beliau justru berfatwa bahwa membeli gamelan bisa menjadi prioritas saat itu. Alasannya tunggal: yang terpenting adalah menjaga kerukunan dan persatuan (guyub rukun) masyarakat. Beliau meyakini, ketika masyarakat sudah guyub, mendirikan masjid akan menjadi hal yang mudah.
Pandangan ini menunjukkan kedalaman kearifan lokal beliau yang menempatkan harmoni sosial sebagai landasan utama bagi pembangunan spiritual dan fisik.
Penerus Model Dakwah Walisongo
Strategi dakwah kultural yang digagas KH. Chudlori ini terbukti efektif. Para alumni Pondok Pesantren API Tegalrejo dikenal mudah diterima di masyarakat, bahkan di daerah-daerah yang secara kultural dianggap abangan (tradisi non-santri), seperti di Solo Raya.
Hal ini mengukuhkan bahwa ikhtiar dakwah KH. Chudlori merupakan penerus model dakwah Walisongo, yang menggunakan budaya lokal sebagai jembatan untuk menyampaikan ajaran Islam. Dakwah kultural tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga menghargai dan memelihara identitas kearifan lokal masyarakat.
Sumber : suaranu.id