SRAGEN – Harum rempah yang menyeruak di Dukuh Genengsari, Desa Kalikobok, Kecamatan Tanon, bukan sekadar aroma masakan biasa. Di sana, sebuah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bernama Keripik Usus Selajaya tengah bertransformasi dari camilan kampung menjadi produk unggulan yang merambah pasar nasional.
Di tangan Erma Sulistyowati (37) dan suaminya, usus ayam yang sering kali dianggap bahan sisa diubah menjadi keripik gurih dengan omzet produksi yang mencapai satu ton per hari.
Rahasia Dapur: Teknik Tradisional di Era Modern
Meski permintaan pasar meledak, Erma tetap setia mempertahankan metode produksi tradisional. Keunikan Keripik Usus Selajaya terletak pada penggunaan tungku kayu bakar dalam proses penggorengannya. Menurut Erma, api dari kayu bakar memberikan cita rasa alami dan aroma khas yang tidak bisa didapatkan dari kompor gas modern.
“Kayu bakar ini rahasianya. Ada rasa alami yang khas pada keripik kami yang disukai pelanggan,” tuturnya, Rabu (13/5).
Selain varian orisinal yang gurih, Selajaya juga menghadirkan varian pedas balado untuk menyasar selera konsumen masa kini. Kunci kelezatannya ada pada racikan bumbu rempah yang meresap sempurna serta teknik penggorengan yang menjaga tekstur tetap renyah dalam waktu lama.
Merambah Supermarket hingga Luar Pulau
Kerja keras bertahun-tahun kini membuahkan hasil manis. Produk dari sudut kecil di Sragen ini telah mejeng di rak-rak toko oleh-oleh dan supermarket di kota-kota besar. Jangkauan pasarnya kini meliputi:
- Pulau Jawa: Jateng, Jatim, Jabar, Yogyakarta, hingga Jakarta.
- Luar Pulau: Merambah hingga ke Kalimantan.
Dengan harga jual berkisar antara Rp85.000 hingga Rp100.000 per kilogram, bisnis ini telah menjelma menjadi instrumen ekonomi yang menjanjikan bagi Erma.
Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Lebih dari sekadar mengejar profit, Selajaya kini menjadi tulang punggung ekonomi bagi warga sekitar. Saat ini, Erma telah mempekerjakan delapan orang warga lokal Desa Kalikobok. Kehadiran unit usaha ini diharapkan mampu terus berkembang sehingga bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja di desa tersebut.
Kisah Erma Sulistyowati menjadi bukti nyata bahwa inovasi sederhana—mengolah bahan “sisa” dengan ketekunan—mampu menciptakan dampak ekonomi yang nyata bagi komunitas pedesaan dan menginspirasi pelaku UMKM lain untuk naik kelas.