SEMARANG, kabarnujateng.com – Tanggal 28 Oktober menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada hari itu, tahun 1928, para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara mengikrarkan sumpah yang menyatukan seluruh bangsa dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Namun, jalan menuju lahirnya Sumpah Pemuda tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari proses panjang, dari munculnya kaum terpelajar hingga menguatnya semangat nasionalisme di awal abad ke-20.
Awal Kebangkitan: Munculnya Kalangan Terpelajar
Sejarah mencatat, hingga awal abad ke-19, masyarakat Indonesia belum mengenal sistem pendidikan modern. Baru pada masa pemerintahan Hindia Belanda, sekitar tahun 1817, sekolah-sekolah mulai didirikan untuk kalangan ningrat pribumi dan anak-anak Belanda. Pendidikan ini semula hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga administratif kolonial.
Perubahan besar terjadi pada tahun 1901, ketika Ratu Wilhelmina mencanangkan Politik Etis, kebijakan yang memberi kesempatan terbatas bagi pribumi untuk mengenyam pendidikan. Dari sinilah lahir generasi baru—anak-anak muda pribumi terdidik yang mulai berpikir kritis terhadap ketidakadilan kolonial.

Sekolah-sekolah seperti STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia menjadi tempat lahirnya kaum intelektual muda. Mereka tidak hanya belajar ilmu kedokteran, tetapi juga berorganisasi, berdiskusi, dan menyerap gagasan kemerdekaan dari berbagai sumber, termasuk ide-ide pembaruan R.A. Kartini dan dr. Wahidin Soedirohoesodo.
Bangkitnya Organisasi Pemuda
Gagasan dr. Wahidin Soedirohoesodo tentang pentingnya pendidikan bagi kaum bumiputra menggugah para pelajar STOVIA. Dari pertemuan mereka, pada 20 Mei 1908, lahirlah organisasi Boedi Oetomo, organisasi modern pertama yang menjadi awal kebangkitan nasional Indonesia. Tujuan Boedi Oetomo adalah memajukan pendidikan dan kebudayaan bangsa.
Kelahiran Boedi Oetomo menjadi inspirasi munculnya organisasi-organisasi lain: Sarekat Islam (1912), Indische Partij, dan berbagai organisasi pelajar di dalam maupun luar negeri. Para pelajar Indonesia di Belanda juga membentuk Indische Vereeniging (1908), yang kelak dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia, dipimpin tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta, Soetan Sjahrir, dan Achmad Soebardjo.
Sementara di tanah air, tumbuh organisasi-organisasi pemuda yang berbasis kedaerahan:
– Tri Koro Dharmo (1915), perkumpulan pelajar Jawa dan Madura, yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java.
– Jong Sumatranen Bond (1917), didirikan oleh Tengkoe Mansoer dan rekan-rekannya untuk mempersatukan pemuda asal Sumatera.
– Studeerenden Vereeniging Minahasa (1918) yang kemudian menjadi Jong Celebes.
– Sekar Roekoen, organisasi pelajar Sunda yang berdiri tahun 1919.
– Jong Islamieten Bond (1924), lahir dari semangat meneguhkan identitas Islam di kalangan pemuda terpelajar.
Meskipun lahir dari latar suku dan budaya yang berbeda, organisasi-organisasi ini memiliki satu kesamaan: semangat menuntut kemajuan dan kemerdekaan bangsanya.
Kepanduan dan Pendidikan Jiwa Nasionalis
Selain organisasi pemuda, muncul pula gerakan kepanduan seperti Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) yang didirikan Mangkunegara VII di Surakarta tahun 1916. Gerakan kepanduan ini menjadi wadah latihan disiplin dan kepemimpinan bagi generasi muda. Muhammadiyah pun mendirikan kepanduan Hizbul Wathan (1918), sementara Nahdlatul Ulama kemudian melahirkan Pandu Ansor di masa berikutnya.
Melalui kepanduan, nilai-nilai nasionalisme, kemandirian, dan kebersamaan tertanam kuat di kalangan pemuda. Semangat ini menjadi bekal penting dalam menyatukan perbedaan menuju cita-cita kebangsaan.
Jalan Menuju Kongres Pemuda
Memasuki dekade 1920-an, kesadaran untuk bersatu semakin kuat. Para pemuda menyadari bahwa perjuangan tidak bisa lagi dilakukan secara kedaerahan. Gagasan tentang “Indonesia Merdeka” mulai diperjuangkan, terutama oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda yang pada 1925 menerbitkan Manifesto Politik berisi tiga gagasan utama:
1. Rakyat Indonesia harus diperintah oleh pemerintah yang dipilih sendiri.
2. Kemerdekaan hanya dapat dicapai oleh perjuangan bangsa sendiri.
3. Persatuan nasional menjadi syarat utama untuk mencapai kemerdekaan.
Di tanah air, semangat persatuan itu direspons oleh para pemuda dengan mengadakan Kongres Pemuda Pertama pada 30 April–2 Mei 1926 di Jakarta. Kongres ini bertujuan mempererat hubungan antarpemuda dari berbagai organisasi dan menumbuhkan rasa kebangsaan.
Walau belum menghasilkan keputusan konkret, Kongres Pemuda Pertama membuka jalan menuju Kongres Pemuda Kedua dua tahun kemudian.
Lahirnya Sumpah Pemuda 1928
Kongres Pemuda Kedua digelar pada 27–28 Oktober 1928 di Jakarta dan dihadiri berbagai organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, dan lainnya.
Kongres ini dipimpin Sugondo Djojopuspito dengan sekretaris Muhammad Yamin. Dalam sidang kedua di gedung Oost-Java Bioscoop, Yamin menyampaikan gagasan penting tentang bahasa, persatuan, dan tanah air.
Puncak kongres terjadi pada 28 Oktober 1928 di gedung Indonesische Clubhuis, Jalan Kramat Raya 106 Jakarta (kini Museum Sumpah Pemuda).
Di sinilah dibacakan tiga ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda:
Pertama, Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua, Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Di akhir kongres, untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman diperdengarkan dengan iringan biola, mempertegas semangat kebangsaan yang baru lahir.
Dampak dan Pengaruh Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda menegaskan arah baru perjuangan bangsa. Sejak saat itu, organisasi-organisasi pemuda tidak lagi berjuang atas nama daerah, tetapi bersatu di bawah nama Indonesia.
Lahirnya Sumpah Pemuda juga membawa pengaruh luas:
– Membangkitkan semangat kebangsaan di seluruh lapisan rakyat.
– Menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.
– Mendorong tumbuhnya lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai simbol perjuangan.
– Menguatkan pergerakan perempuan, seperti munculnya Kongres Perempuan Indonesia 1928.
Dari sinilah jalan menuju kemerdekaan Indonesia terbuka lebar. Para tokoh muda yang berperan dalam Sumpah Pemuda kelak menjadi generasi perintis kemerdekaan 1945.
Lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Sumpah Pemuda adalah pernyataan tekad yang terus hidup. Ia menjadi sumber inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya—persaudaraan, cinta tanah air, dan penghormatan terhadap perbedaan—sejalan dengan ajaran Islam tentang ukhuwah wathaniyah dan kebersamaan dalam membangun kemaslahatan.
Seperti halnya semangat para santri dan pemuda NU, Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman, dan menjaga persatuan bangsa adalah bentuk ibadah sosial yang luhur.
Reff: Buku Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional (Museum Sumpah Pemuda, 2008).