Rakorcab LAZISNU Rembang: Meneguhkan Kemandirian NU Lewat Filantropi Profesional

Rembang, kabarnujateng.com – Kemandirian organisasi menjadi agenda besar yang terus diikhtiarkan Nahdlatul Ulama. Sebagai garda terdepan penggerak ekonomi umat, NU Care-LAZISNU Kabupaten Rembang menggelar Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) di Gedung NU Rembang pada Ahad (1/2/2026). Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat tata kelola filantropi sekaligus meneguhkan kembali orientasi pelayanan umat atau riayatul ummah.

Ketua NU Care-LAZISNU Rembang, H. M. Naf’an Fuadi, menegaskan bahwa Rakorcab ini bertujuan menyatukan visi seluruh pengelola dari tingkat kabupaten hingga ranting. Menurutnya, potensi besar kedermawanan warga NU harus dikelola dengan sistem yang terpadu agar kemandirian organisasi bukan sekadar menjadi jargon.

“Rakorcab ini adalah ruang untuk menyamakan mimpi. Kita punya cita-cita besar dan potensi luar biasa di tingkat ranting. Melalui kerja filantropi yang disiplin, kita ingin mewujudkan kemandirian NU yang nyata,” ujar Naf’an di hadapan pengurus UPZIS dari sembilan kecamatan.

Naf’an menjelaskan bahwa optimisme LAZISNU didasarkan pada fakta sosial Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia. Merujuk pada World Giving Index, sembilan dari sepuluh orang Indonesia gemar berdonasi. Modal sosial ini harus dijawab dengan manajemen lembaga yang amanah dan transparan.

“Kepercayaan masyarakat adalah aset termahal. Kami berkomitmen agar LAZISNU menjadi wadah penyaluran zakat dan koin NU yang profesional. Jika tata kelola kita akuntabel, dukungan masyarakat akan terus mengalir,” jelasnya.

Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah pengembalian orientasi lembaga pada tugas utamanya, yakni riayatul ummah. Naf’an mengingatkan bahwa esensi LAZISNU adalah keberpihakan pada kaum dhuafa. Ia menegaskan bahwa keberhasilan lembaga tidak selalu diukur dari bangunan fisik, melainkan dari sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh umat.

“Filosofinya adalah NU peduli untuk umat, bukan sebaliknya. Ini membutuhkan ketekunan dan keselarasan langkah dari seluruh pegiat filantropi di tingkat kecamatan maupun desa,” tegasnya.

Terkait fluktuasi perolehan Koin NU pada tahun 2025, Naf’an mengajak seluruh pihak melakukan evaluasi objektif. Ia mendorong agar pengurus di tingkat ranting diberi keleluasaan lebih besar dalam mengelola dana koin agar manfaatnya bisa langsung menyentuh masyarakat setempat. Menurutnya, jika dana kembali ke umat, maka tingkat kepercayaan akan naik secara otomatis.

Menutup arahannya, Naf’an mengutip pesan Ketua Tanfidziyah PCNU Rembang, KH. Muhtar Nur Halim, bahwa Koin NU harus dikembalikan sepenuhnya untuk kepentingan umat. Ia mewanti-wanti agar penggunaan dana tersebut dilakukan secara profesional dan tepat sasaran sesuai peruntukannya.

“Kebaikan yang tidak profesional bisa kalah oleh keburukan yang terorganisir. Kita harus membuktikan bahwa LAZISNU adalah lembaga yang kredibel dalam mengelola amanah jamaah,” pungkasnya.

Melalui Rakorcab ini, NU Care-LAZISNU Rembang optimis mampu membangun tata kelola yang lebih solid demi menghadirkan kemaslahatan yang berkelanjutan bagi masyarakat di Kabupaten Rembang.

Pewarta: Muhammad Miftahul Khoir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *