Karanganyar, kabarnujateng.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Karanganyar selenggarakan istighotsah akbar dalam rangka Harlah NU yang ke-100 Masehi, pada Ahad (1/2/2026). Kegiatan ini berlangsung di Masjid Agung Madaniyah Karanganyar sebagai wujud syukur atas seabad perjalanan NU dalam berkhidmat kepada umat, bangsa, dan negara. Harlah 100 tahun masehi ini mengangkat tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”.
Istighotsah akbar ini dihadiri oleh Pengurus Cabang NU Kabupaten Karanganyar, Pimpinan Cabang Banom NU Karanganyar, pengurus Lembaga NU Karanganyar, Pengurus MWCNU se-Kabupaten Karanganyar, serta Pengurus NU se-Kabupaten Karanganyar.
Turut hadir ketua Rais Suriyah PCNU Karanganyar, KH. Abdul Aziz, S.Pd.I serta Ketua Tanfidziyah PCNU Karanganyar, KH. M. Nuril Huda.
Rangkaian kegiatan perigatan Harlah NU ke-100 tahun diawali dengan pembukaan, dilanjutkan istighotsah yang dipimpin oleh Kiai Ahmad Asyrofi, sambutan dari perwakilan pengurus PCNU Kabupaten Karanganyar, mauidzoh hasanah oleh KH. Abdul Aziz dan dilanjutkan dengan doa bersama, serta penutup.
KH. Muqorobin Su’ud selaku wakil ketua PCNU Karanganyar mewakili pengurus cabang Kabupaten Karanganyar dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap panitia dan seluruh warga NU yang telah berpartisipasi dan hadir dalam kegiatan istighotsah ini. Tidak hanya itu, beliau juga menyampaikan harapan sekaligus motivasi kepada seluruh jamaah yang hadir dalam kegiatan harlah ini.
“Di usia Nahdlatul Ulama yang ke-100 tahun masehi ini, semoga dapat menjadikan kita semua lebih bersemangat dalam berkhidmat dan mengabdi untuk NU, agama, bangsa, dan negara.”
Seiring perkembangan zaman, NU terus meneguhkan perannya dalam menjaga tradisi keilmuan Islam melalui pesantren sebagai pusat pendidikan dan pembentukan karakter. Dari pesantrenlah NU lahir, tumbuh, dan berkhidmat untuk umat dan bangsa. Hingga satu abad perjalanannya, NU tetap menempatkan pesantren sebagai jantung pendidikan dan pusat transmisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Sejalan dengan hal itu, KH. Abdul Aziz menyampaiman bahwa pesantren sebagai ruang tirakat dalam menuntut ilmu sekaligus pembentukan akhlak. NU mendorong para orang tua untuk tidak ragu mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada pesantren sebagai ikhtiar mencetak generasi yang berilmu dan berakhlakul karimah.
“Yang membuat saya trenyuh, dulunya jarang ngaji tapi sekarang anaknya di titipkan ke pondok pesanten. Apalagi pondok Qur’an hingga anaknya hafal Al-Qur’an. Itu termasuk orang-orang yang beruntung. Maka tinggali anak dengan ilmu yang sebanyak-banyaknya, kalau dirasa kurang mampu bisa dititipkan pondok pesantren. Pesantren itu tirakat, tirakatnya apa? pisah dengan orang tua itu sudah tirakat. Maka pesantren yang utama itu adalah tirakat”, pesan beliau.
Melalui pesantren, NU tidak hanya menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga merawat nilai-nilai kebangsaan, moderasi beragama, dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas perjuangan NU.
Peringatan satu abad NU ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran NU dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, memperkuat persatuan, serta meneguhkan komitmen kebangsaan menuju abad kedua yang lebih bermartabat.
Penulis : Hanifah Nur Aziz
Harlah ke-100 Tahun Masehi, PCNU Karanganyar Gelar Istighotsah Akbar