Sujiwo Tejo Guncang Demak, Kritik Korupsi Penguasa Lewat “Rojo Tikus”

Demak – Kritik sosial keras mengguncang Stadion Sultan Fatah, Demak, pada Sabtu malam (9/5). Sujiwo Tejo bersama Teater Lingkar menyajikan pertunjukan satir bertajuk “Rojo Tikus” yang menyindel perilaku koruptif para penguasa.

Ratusan penonton tampak memadati arena pertunjukan. Atmosfer dramatik tercipta melalui perpaduan teater, pedalangan, tari, musik gamelan, serta tata visual bernuansa gelap yang dikemas apik.

Pementasan ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta sejumlah komunitas seni budaya nasional. Tak hanya menghibur, panggung tersebut sekaligus menjadi bentuk pembaruan seni tradisi dengan sentuhan modern.

WhatsApp Hubungi Kami

Lakon “Rojo Tikus”: Sindiran bagi Pejabat Serakah

Lakon “Rojo Tikus” mengisahkan sosok bernama Wirog Bawono, seorang “raja tikus” berdasi yang hidup dalam pusaran praktik korupsi bersama kelompok yang disebut “Partai Tikus”. Sebuah negeri yang digambarkan dengan jargon “berbuncit, berdecit, berduit” dilukiskan kacau balau akibat kerakusan para pejabat yang terus menggerogoti rakyat.

Namun di tengah gaya hidup mewah dan genggaman kekuasaan, Wirog mulai merasa ingin bertobat. Sayangnya, niat baik tersebut justru ditentang oleh orang-orang terdekatnya, termasuk sang istri, Queen Milly Cherry, serta leluhur tikus bernama Kakek Jinada.

Sujiwo Tejo: Antusiasme Penonton Bukti Seni Masih Dicintai

Penampilan Sujiwo Tejo menjadi magnet utama malam itu. Dialih-alih dengan lantunan dialog satir sekaligus reflektif, ia beberapa kali berhasil memancing tepuk tangan meriah dan gelak tawa dari penonton.

“Kami sangat mengapresiasi antusiasme para penonton malam ini. Ini menunjukkan ruang budaya dan seni pertunjukan masih sangat dicintai masyarakat,” ujar Sujiwo Tejo.

Sutradalang: Teater Lingkar Hadirkan Pakeliran Multidimensi

Sutradalang Sindhunata Gesit Widiharto menjelaskan bahwa konsep yang diusung adalah Pakeliran Multidimensi, yaitu perpaduan antara pedalangan, teater, tari, film, dan musik. Menurutnya, ini merupakan upaya mengembangkan seni tradisi agar tetap segar dan relevan.

“Kami ingin membuktikan bahwa Teater Lingkar tetap hidup dan berkembang dengan karya-karya yang fresh serta penuh kebaruan,” jelasnya.

Melalui “Rojo Tikus”, Teater Lingkar menegaskan bahwa seni tradisi masih memiliki tempat yang penting—baik sebagai media hiburan maupun alat kritik sosial di tengah derasnya perkembangan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *