Oleh: Dr. KH. Saiful Amar, Lc. MSI *)
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لله الَّذِي أرْسَلَ رَسُوْلَهُ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَ نَذِيْرًا وَدَاعِيًا إلى الله بإذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا واَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه رَبُّ الْعَالَمِيْن وَقَيُّوْمُ السَّمَوَاتِ و اْلَارْضِ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه الْمَبْعُوْثُ لِأتَمِّمَ مَكَارِمَ الأخْلاَقِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْن. الّلَهُمَّ صَلّ وَسَلِّم عَلَى سَيِّدنا محمد وَعَلَى ألِهِ وأصْحَابِه والتَّابِعِيْن والْعَاِملِيْن بِسُنَّتِهِ. أما بعد.
فَيَا عِبَادُ الله أوْصِيْكُمْ ونَفْسِي بتقوى الله وَتَزَوَّدُوْا فَإنَّ خَيْرَ زَادِ التَّقْوَى فقال الله تعالى: وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا َيْحتَسِبْ.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Mengawali khutbah Jumat ini, khatib mengajak kepada jamaah untuk menguatkan rasa syukur dan takwa kepada Allah yang telah menganugerahkan nikmat Iman dan Islam, sehingga ditengah-tengah kesibukan kita dalam beraktifitas kita masih diberikan kemampuan untuk memenuhi panggilanya dalam rangkaian sholat Jum’at yang mulia ini.
Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa sebagaimana firman Allah :
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا َيْحتَسِبْ
Artinya: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar (Solusi) baginya. Dan akan memberi Rizki dari jalan yang tidak disangka”
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata Pahlawan dimaknai sebagai orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran. Secara etimologis ada juga yang memaknai pahlawan berasal dari akar kata pahala, dan berakhiran wan, pahalawan. Artinya, mereka pantas memperoleh pahala karena jasa-jasanya bagi perjuangan menegakkan kebenaran.
Dalam perspektif Islam, yang disebut pahlawan pasti memiliki kontribusi atau jasa besar bagi orang lain, karena semua ajaran dalam Islam memiliki implikasi positif bagi orang lain, bahkan untuk semesta alam ini (semua makhluk hidup). Konsep “pahlawan” (syahid atau mujahid) memiliki makna yang luas dan mendalam, melampaui sekadar keberanian fisik di medan perang.
Kepahlawanan dalam Islam didasari oleh perjuangan tulus untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kebaikan demi mencari ridha Allah SWT, bukan sanjungan manusia. Oleh karenanya Orang-orang yang berjuang itu pun tidak memperdulikan apakah ia bakal mendapat penghargaan atau tidak dari institusi manapun, yang mereka harapkan adalah keridhaan dari Allah SWT.
Maasyirol Muslimin Rahimakumullah
Nilai-nilai kepahlawanan seperti keberanian, ketulusan, tanggung jawab, dan rela berkorban tetap relevan hingga kini. Di era modern ini, medan perjuangan kita mungkin berbeda. Kita tidak lagi berperang mengangkat senjata, namun tantangan yang kita hadapi juga tidak kalah berat.
Semangat kepahlawanan masa kini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, diantaranya:
Pertama: Pahlawan dalam melawan kebodohan dan kemiskinan: Berjuang untuk pendidikan yang lebih baik dan kesejahteraan umat.
Maka banyak pula Pahlawan Ilmu Pengetahuan: Ulama, ilmuwan, dan pendidik yang mencerdaskan umat dan memberantas kebodohan seperti Imam Asyafi’i dalam mulazamah/istiqamah belajar dan mengajarnya. Ibnu Sina yang sangat masyhur dikalangan ulama barat dan timur dalam ilmu kedokterannya dan Imam Al-Ghazali dalam kegigihannya untuk memerangi kebodohan lewat jalur mujahadah annafs
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang Mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS At-Taubah: 122)
Kedua: Pahlawan dalam menjaga persatuan dan toleransi: Mempertahankan keutuhan bangsa di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya, sebagaimana diajarkan dalam QS. Ali Imran ayat 103 tentang pentingnya berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai berai.
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Artinya: “Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”
Ketiga: Pahlawan dalam Memerangi korupsi dan ketidakadilan, atau berkontribusi positif bagi masyarakat dengan cara-cara yang bermartabat, disebut Pahlawan Sosial yaitu Orang-orang yang berjuang melawan kemiskinan, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan menolong sesama yang membutuhkan, seperti kepala keluarga yang berjuang menafkahi keluarganya secara halal.
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
Artinya: “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang dzalim.” (HR Abu Daud)
Keempat: Menjadi pahlawan di lingkungan terkecil, Menjadi teladan bagi keluarga, membantu sesama, dan berbuat baik bagi masyarakat. Oleh karenanya, konsep pahlawan meluas ke berbagai aspek kehidupan. Siapa saja yang konsisten berbuat kebaikan, memiliki sikap tanggung jawab, pantang menyerah, dan menjaga persatuan umat adalah seorang pahlawan.
عن جابر رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: ’’Jabir radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Bukhari dan Muslim)
أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
والْعَصْرِ إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلاَّ الَّذِينَ أٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلكم في الْقُرأنِ الْعَظِيم وَنَفَعَنِي وإيَّاكُم ِبما فيه من الأياتِ والذِّكْرِ الْحَكِيْم وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاَوتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم
Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِأَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
.اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Penulis: Dr. KH. Saiful Amar, Lc. MSI, Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Tengah.
Download Naskah Khutbah Jumat Bahasa Indonesia
Download Naskah Khutbah Jumat Bahasa Jawa