Riwayat Kantor Pusat PBNU: Dari Surabaya, Pasuruan, Madiun hingga Jakarta

Juli 1947, Belanda melancarkan serangan besar untuk kembali menduduki Indonesia yang baru merdeka. Serangan yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I itu berlangsung sejak 21 Juli hingga 4 Agustus 1947. Peristiwa ini turut memengaruhi perjalanan Nahdlatul Ulama (NU). Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang saat itu berada di Pasuruan terpaksa dipindahkan ke Madiun, sebuah wilayah yang dalam perjanjian Renville (17 Januari 1948) masuk ke dalam teritori Republik Indonesia.

Sebelum perpindahan tersebut, PBNU berkantor di Pasuruan hampir dua tahun. Buku Sejarah KH A Wahid Hasyim karya Abu Bakar Atjeh (1958) mencatat, sejak pecahnya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, PBNU menempatkan kantor pusatnya di rumah Ketua Umum PBNU KH Muhammad Dachlan di Jalan Pengadangan 3 Pasuruan. Bangunan itu juga sekaligus menjadi kantor PB Muslimat NU, yang dipimpin oleh istrinya, Nyai Chadijah Dachlan.

Dalam arsip Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) edisi No. 3 Tahun I (Ramadhan 1365/Agustus 1946) bahkan tercantum alamat lengkap dan nomor telepon kantor tersebut, yakni Jalan Pengadangan 3 Pasuruan, No. Tilfoen 123. Dari sinilah berbagai aktivitas organisasi NU digerakkan, sebelum akhirnya dipindahkan ke Madiun akibat gempuran militer Belanda.

Kini, bangunan bekas kantor PBNU di Pasuruan terletak di Jalan Diponegoro No. 5, Kota Pasuruan. Sayangnya, kondisi bangunan itu tampak memprihatinkan. Sebagian dinding sudah runtuh, cat tembok yang dulunya putih hijau kini kusam, halaman ditumbuhi semak belukar, serta pagar rumah digembok dengan papan bertuliskan “disewakan.”

Kondisi tersebut tentu sangat disayangkan. Mengingat dari sisi historis, bangunan ini layak dilestarikan sebagai cagar budaya sesuai Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Bagi NU, rumah ini bukan sekadar bangunan tua, tetapi saksi sejarah perjuangan para ulama dan Muslimat NU di masa revolusi mempertahankan kemerdekaan.

Berikut sekilas riwayat kantor pusat NU dari awal didirikan hingga sekarang:

1. Surabaya (1926-1945, 1948-1950)
Alamat lengkapnya berada di Jalan Sasak Nomor 23 (ada pula yang menyebut Nomor 66, sesuai alamat majalah Berita Nahdlatoel Oelama) Surabaya. Di lokasi bangunan yang berdekatan dengan Masjid Ampel inilah, kantor pusat pertama PBNU berdiri, yang kala itu masih disebut HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama).

Lokasi ini tentu berbeda dengan alamat Jalan Bubutan VI Nomor 2 Surabaya, yang di beberapa sumber menyebutkan sebagai kantor HBNO pertama. Meski mengandung nilai sejarah yang tinggi baik bagi NU maupun Indonesia termasuk ketika dicetuskan Resolusi Jihad 1945, Kantor Jalan Bubutan bukanlah kantor HBNO, melainkan Kantor Pemuda Ansor.

WhatsApp Hubungi Kami

2. Pasuruan (1945-1947)
Kedatangan Pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda ke Surabaya, yang kemudian disusul dengan meletusnya Perang Surabaya 10 November 1945, memaksa para pimpinan NU untuk memindahkan kantornya ke daerah lain, yang sekiranya lebih aman.

Saat itu, Ketua PBNU KH Muhammad Dachlan, diperintahkan untuk memindahkan kantor pusat NU dari Surabaya ke rumahnya di Jalan Pengadangan 3 Kabupaten Pasuruan.

Dipilihnya Pasuruan selain lokasinya yang dekat dengan Surabaya, juga didukung banyaknya pesantren dan tokoh NU yang ada di sana.

Sementara itu, di berbagai daerah, para anggota NU diakitifeer, bergabung bersama Hizbullah dan Sabilillah ikut mengangkat senjata melawan musuh.

Kaum perempuan dari Muslimat pun seakan tak mau kalah, mereka berjuang di garis belakang, dan bahkan ada yang ikut memanggul senjata.

Kondisi gedung yang pernah jadi kantor PBNU di Pasuruan (Foto: Ajie Najmuddin/NU Online)

3. Madiun (1947-1948)
Untuk kedua kalinya, Kantor NU terpaksa harus ikut hijrah dari Pasuruan ke Madiun. Seperti yang dipaparkan KH Saifuddin Zuhri dalam buku Berangkat dari Pesantren: “Karena gangguan militer Belanda, akhirnya (NU) hijrah buat kali kedua dari Pasuruan ke Madiun, bertempat di Jalan Dr Sutomo 9 Madiun.” 

Gangguan militer yang dimaksud, yakni Agresi Militer Belanda pertama yang terjadi pada tahun 1947. Zaman itu lazim disebut sebagai zaman darurat atau zaman Renville.

Kepindahan Kantor NU pusat ini, juga diikuti beberapa banom seperti PB Muslimat NU. Namun, hanya setahun setelah pindah ke Madiun, menyusul terjadinya pemberontakan PKI/FDR di Madiun ditambah dengan Agresi Militer Belanda kedua, PBNU memindahkan kantornya kembali ke Surabaya

4. Jakarta (1950-sekarang)
Setelah melewati berbagai masa sulit, bangsa Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaannya. Ibu kota negara yang sempat dipindah ke Yogyakarta, kini kembali lagi ke Jakarta.

Tahun 1950, kantor pusat NU berpindah ke Jakarta. Selain faktor ibu kota, menurut KH Saifuddin Zuhri, hal ini juga dikarenakan banyaknya tokoh-tokoh PBNU yang berjuang (menjadi menteri dan lain sebagainya) di Jakarta.

Di Jakarta, Kantor PBNU terletak di Jalan Menteng Raya 24, kira-kira 300 m sebelah Timur Stasiun Gambir. Setelah beberapa tahun, kantor pusat NU kemudian dipindahkan ke Jalan Kramat Raya Nomor 164, yang masih bertahan hingga sekarang.

Ajie Najmuddin, pemerhati sejarah NU
Sumber: NU Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *