KEBUMEN – Menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan pada Agustus 2026 mendatang, dinamika suksesi kepengurusan mulai menghangat. Menanggapi hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hasani Jatimulyo Alian, Gus Fachrudin Ahmad Nawawi, mengingatkan para kader agar menyikapi reorganisasi di tubuh PBNU sebagai mekanisme organisasi yang wajar dan periodik.
Gus Fachrudin menegaskan bahwa hiruk-pikuk pemilihan pemimpin jangan sampai mengaburkan esensi dasar jam’iyah sebagai pelayan umat.
Bukan Sekadar Rebutan Kursi
Menurut Gus Fachrudin, reorganisasi dalam NU merupakan tradisi rutin yang berfungsi sebagai estafet kepemimpinan. Ia meminta seluruh kader untuk tidak berlebihan dalam berkontestasi, mengingat siapa pun yang terpilih memikul tanggung jawab untuk melanjutkan amanah, bukan memulai segala sesuatunya dari nol.
“Jangan sampai rutinitas ini mengalihkan visi besar NU. Jika energi habis hanya untuk berebut posisi, lantas siapa yang akan memikirkan nasib pesantren kecil di pelosok atau penguatan ekonomi warga nahdliyin?” ujar Gus Fachrudin saat ditemui di Ponpes Al Hasani, Minggu (10/5).
Visi Besar: Dakwah Digital dan Ekonomi Umat
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi tantangan nyata yang harus dihadapi pengurus baru pasca-muktamar nanti. Gus Fachrudin menyoroti tiga poin krusial yang harus menjadi prioritas:
- Akselerasi Dakwah Digital: Memanfaatkan platform media sosial untuk menjangkau generasi muda.
- Pemberdayaan Ekonomi: Memperkuat kemandirian ekonomi warga dan pesantren kecil.
- Solidaritas Organisasi: Menjaga persatuan agar perbedaan pilihan tidak memicu perpecahan.
Menjaga Akhlakul Karimah dalam Berorganisasi
Gus Fachrudin berharap Muktamar ke-35 menjadi momentum penguatan solidaritas. Ia menekankan agar proses suksesi dijalankan dengan prinsip musyawarah, tawadhu (rendah hati), dan mengutamakan kemaslahatan bersama.
Ia meyakini bahwa perbedaan pandangan di organisasi sebesar NU adalah sebuah kewajaran, namun perbedaan tersebut harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.
“Silakan berproses, tapi setelah selesai, semua harus kembali dalam satu barisan. Kepemimpinan boleh berganti, tetapi khidmah untuk umat, bangsa, dan agama tidak boleh berhenti,” tegasnya.
Titik Balik Kemajuan Umat
Muktamar NU ke-35 dipandang bukan hanya sebagai agenda internal, melainkan peristiwa penting yang akan menentukan arah gerak sosial-keagamaan di Indonesia selama lima tahun ke depan. Gus Fachrudin optimis, dengan komitmen menjaga persatuan dan nilai-nilai akhlakul karimah, muktamar mendatang akan menjadi titik balik bagi kemajuan umat Islam di Indonesia secara menyeluruh.