Dua Calon Guru Besar Universitas Diponegoro Paparkan Inovasi di Bidang Genetika Ternak dan Humaniora Digital

Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali memperlihatkan dedikasinya dalam memajukan ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan melalui pemaparan karya ilmiah oleh dua calon guru besar di hadapan Dewan Profesor. Acara berlangsung di Ruang Sidang Senat Akademik, Kampus Tembalang, Semarang, pada hari sebelumnya.

Kedua akademisi yang menyampaikan gagasannya adalah Sutopo dari Fakultas Peternakan dan Pertanian serta Prihantoro dari Fakultas Ilmu Budaya. Mereka menghadirkan terobosan di bidang yang berbeda, yakni genetika hewan ternak dan humaniora digital yang memanfaatkan kecerdasan buatan.

Pada sesi pertama, Sutopo menyampaikan makalah berjudul “Peningkatan Mutu Genetik Ternak Lokal Melalui Seleksi Karakteristik pada Penanda Molekuler”. Ia menekankan betapa pentingnya memperbaiki kualitas genetik ternak asli Indonesia sebagai upaya melestarikan plasma nutfah sekaligus meningkatkan hasil sektor peternakan nasional.

WhatsApp Hubungi Kami

Salah satu fokus risetnya adalah Sapi Bali yang dikenal sangat adaptif. Sapi ini merupakan hasil domestikasi dari banteng liar (Bos javanicus) dan membawa jejak genetik yang tersebar pada berbagai sapi lokal di Indonesia akibat persilangan dengan sapi Zebu, sapi Ongole/PO, maupun sapi Eropa.

Selain itu, Sutopo juga menyoroti potensi Ayam Cemani yang memiliki keunikan berupa fibromelanosis, yaitu pigmentasi hitam hampir di seluruh tubuhnya. Ia menjelaskan adanya penanda molekuler tertentu yang membuat ayam ini menjadi penting dalam kajian genetika.

Dalam pengembangan sapi perah, ia memaparkan peran gen TLR4 yang berkaitan dengan produksi susu dan ketahanan terhadap penyakit mastitis. Temuan ini membuka peluang penggunaan teknologi penanda genetik seperti SNP (polimorfisme nukleotida tunggal) untuk menghasilkan sapi Friesian Holstein yang lebih unggul, produktif, serta tahan terhadap iklim tropis.

Di sesi kedua, Prihantoro mempresentasikan makalah berjudul “CORTEX: Sistem Penelusuran Data Korpus untuk Humaniora Digital”. Ia mengungkapkan bahwa perkembangan linguistik korpus kini menjadi bagian penting dalam teknologi bahasa modern.

Menurutnya, teknologi berbasis Natural Language Processing (NLP) seperti mesin penerjemah, text-to-speech, kecerdasan buatan, hingga analisis teks untuk kebijakan publik menunjukkan betapa pentingnya pengelolaan data bahasa dalam ekosistem digital.

Prihantoro menambahkan, selama ini pemrosesan data korpus masih mengandalkan berbagai macam perangkat seperti CQPweb, Sketch Engine, LancsBox, dan WordSmith. Namun, interpretasi data tetap memerlukan keahlian tinggi dan waktu yang tidak sedikit.

Melalui inovasi CORTEX, ia menawarkan sistem berbasis kecerdasan buatan yang tidak hanya menyajikan data, tetapi juga membantu pengguna memahami dan menafsirkan hasil analisis secara lebih efisien.

“Inovasi ini adalah langkah strategis untuk memperkuat kemandirian keilmuan nasional, terutama dalam pengembangan teknologi bahasa yang berbasis pada sumber daya dalam negeri,” jelasnya dalam keterangan tertulis pada Rabu (6/5/2026).

Paparan kedua calon guru besar ini mencerminkan kontribusi UNDIP dalam mengembangkan ilmu pengetahuan lintas disiplin. Mulai dari penguatan sektor peternakan melalui inovasi genetika hingga transformasi digital di bidang humaniora, keduanya diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *