IPMAFA Pati Gelar Wisuda Perdana Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa Arab

PATI, kabarnujateng.com – Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, menggelar Wisuda Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa Arab untuk pertama kalinya. Sebanyak 18 wisudawan mengikuti prosesi wisuda yang digelar di aula kampus setempat, Sabtu (8/11/2025).

Rektor IPMAFA Pati, KH Abdul Ghafar Rozin, menyampaikan bahwa wisuda tidak boleh dimaknai hanya sebagai ajang pemberian ijazah, tetapi harus memiliki makna yang mendalam.

“Wisuda ini harus menjadi tonggak awal bagi para alumni IPMAFA dalam sebenar-benarnya berkhidmah kepada masyarakat,” ungkap pria yang juga merupakan Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah ini.

Gus Rozin juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa Arab sebagai kunci utama dalam memahami ajaran Islam. Karena menurutnya, bahasa Arab menjadi wasilah untuk memahami sumber-sumber primer keislaman.

Ia juga menyampaikan bahwa bahasa Arab merupakan sarana penting dalam membangun peradaban manusia berlandaskan nilai-nilai Islam. Dirinya mencontohkan kisah Imam Syafi’i yang selama dua puluh tahun menetap di negeri Arab untuk mempelajari dan mengajarkan bahasa tersebut demi memahami fikih.

“Bahasa Arab adalah sarana untuk membangun fikih, dan fikih tidak lain adalah pembangunan peradaban manusia sesuai dengan nilai-nilai Islam. Jadi, barang siapa yang tidak menguasai bahasa ini, tidak mungkin baginya untuk membangun peradaban,” jelas dia.

Sementara itu, Wakil Ketua PBNU, KH Zulfa Mustofa yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi tinggi kepada IPMAFA yang telah melaksanakan wisuda perdana Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa Arab. Terlebih, pada rangkaian prosesi tersebut dikemas menggunakan bahasa Arab.

Kiai Zulfa menilai bahwa penggunaan bahasa Arab dalam prosesi wisuda merupakan hal yang membanggakan dan mencerminkan ruh pesantren yang melekat kuat pada IPMAFA.

“Saya sangat mengapresiasi wisuda perdana pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa Arab ini karena menggunakan bahasa Arab. Ini meneruskan tradisi para masyayikh Mathali’ul Falah,” kata dia.

Ia mengingatkan kembali bahwa tradisi penggunaan bahasa Arab telah menjadi kebiasaan para kiai pendiri Mathali’ul Falah. Dia menceritakan kisah Kiai Sahal Mahfudh, yang sering mengajar berbagai mata pelajaran seperti Tarikh Tasyri’ dan Insya’ dengan menggunakan bahasa Arab.

“Dulu Kiai Sahal terbiasa berbicara dengan bahasa Arab. Suatu ketika beliau bertanya kepada santri, ‘Ayyuhal abna, hal indakum musykilah?’ (Anak-anakku, adakah yang ingin bertanya?), namun semua santri hanya terdiam,” terang dia.

Kiai Zulfa juga merasa gembira karena pada wisuda kali ini, para petugas MC, para pembawa sambutan semuanya menggunakan bahasa Arab dengan lahjah (logat) Arabiyah yang fasih, bukan bahasa Arab yang bercampur dengan logat Jawa.

Dia juga berpesan agar mahasiswa IPMAFA senantiasa menjaga keseimbangan antara penguasaan turats (warisan klasik) dengan penguasaan ilmu dan kompetensi modern tetap seimbang.

Dan diakhir orasinya ia berpesan kepada wisudawan khususnya dari Prodi Bahasa Arab, agar mampu membaca dan memahami turats qadim atau kitab-kitab klasik, sekaligus menguasai bahasa Arab kontemporer (mu‘ashir) serta pengembangan media dan teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *