Sidang Umum PBB ke-80 di New York pada 25 September 2025 menjadi sorotan dunia setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan pidato yang memicu kontroversi. Begitu ia naik podium, sejumlah besar delegasi dari negara-negara pendukung Palestina langsung melakukan aksi walk out. Pemandangan kursi kosong tampak jelas di ruang sidang utama, menunjukkan sikap tegas komunitas internasional terhadap Israel. Aksi ini bukan sekadar protes simbolis, tetapi juga pernyataan politik yang kuat. Para diplomat menilai kehadiran Netanyahu tidak pantas karena ia tengah menghadapi tuntutan hukum internasional. Tuduhan kejahatan perang di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) membuat legitimasinya semakin dipertanyakan.
Delegasi yang melakukan walk out berasal dari berbagai kawasan dengan mayoritas penduduk Muslim dan negara sahabat Palestina. Di antaranya adalah Indonesia, Pakistan, Iran, Malaysia, Kuwait, dan Kuba yang secara konsisten mendukung hak rakyat Palestina. Mereka keluar hampir bersamaan, meninggalkan kesan aksi terkoordinasi yang menyoroti isu kemanusiaan di Gaza. Beberapa delegasi bahkan menyampaikan pernyataan resmi setelah keluar, mengecam agresi Israel yang berkelanjutan. Tindakan ini disambut tepuk tangan dari kelompok solidaritas Palestina di luar gedung PBB. Hal ini mempertegas isolasi diplomatik Israel di forum internasional yang makin meluas.
Meski menghadapi aksi protes terbuka, Netanyahu tetap melanjutkan pidatonya. Dalam isi pidato, ia kembali membela operasi militer Israel di Gaza dengan alasan “perang membela diri.” Netanyahu juga menuduh negara-negara pendukung Palestina ikut memperkuat jaringan terorisme. Ia menolak keras solusi dua negara yang didorong oleh sebagian besar anggota PBB. Penolakannya memperlihatkan garis keras politik Israel yang bertolak belakang dengan aspirasi global. Sikap ini sekaligus memperlebar jurang perbedaan antara Israel dan komunitas internasional.
Berbeda dengan puluhan negara yang melakukan walk out, delegasi Amerika Serikat justru tetap bertahan di ruang sidang. AS mendengarkan pidato Netanyahu hingga tuntas, menegaskan posisinya sebagai sekutu terdekat Israel. Kehadiran penuh AS dianggap sebagai dukungan diplomatik sekaligus tameng politik bagi Israel di forum internasional. Namun, sikap ini menuai kritik dari sejumlah negara berkembang yang menganggap Washington terlalu bias. Banyak pengamat menilai, keberpihakan AS membuat penyelesaian konflik Palestina-Israel semakin sulit. Ketergantungan Israel pada dukungan AS pun semakin terlihat jelas.
Aksi walk out ini memiliki makna diplomatik yang besar. Pertama, ia menunjukkan solidaritas nyata negara-negara terhadap perjuangan rakyat Palestina. Kedua, aksi tersebut menegaskan bahwa Israel semakin terisolasi di mata dunia. Ketiga, ia memperlihatkan adanya konsensus internasional untuk menolak agresi Israel. Selain itu, aksi tersebut memperkuat desakan agar PBB bertindak lebih tegas terhadap pelanggaran kemanusiaan. Banyak analis memandang walk out sebagai tekanan moral yang dapat berpengaruh terhadap kebijakan internasional di masa depan. Dengan demikian, insiden ini bukan hanya seremonial, tetapi juga bagian dari strategi diplomasi global.
Situasi ini menambah sorotan terhadap konflik Israel-Palestina yang tak kunjung usai. Tekanan internasional semakin kuat agar Israel menghentikan serangan di Gaza dan menghormati hak-hak rakyat Palestina. Aksi walk out di forum tertinggi PBB mempertegas bahwa komunitas global tidak lagi mentolerir kebijakan keras Tel Aviv. Banyak pihak berharap momen ini menjadi titik balik menuju perdamaian yang lebih adil. Namun, tanpa perubahan nyata dari Israel dan dukungan penuh negara-negara besar, perdamaian tetap sulit terwujud. Peristiwa ini sekaligus menegaskan bahwa solusi dua negara masih dianggap jalan terbaik untuk mengakhiri konflik.