Semarang – Walisongo Public Relations Community (WPRC) berkolaborasi dengan NU Online menyelenggarakan webinar kehumasan secara daring melalui Google Meet pada Sabtu (9/5/2026). Mengusung tajuk “Good News or Bad News: Seni Mengelola Krisis dan Kepercayaan”, kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa serta masyarakat umum yang antusias mendalami strategi komunikasi, khususnya dalam menghadapi situasi krisis di tengah derasnya arus digital.
Acara ini menghadirkan dua narasumber dari NU Online, yaitu Kepala Biro NU Online Jawa Tengah, Lukman Hakim, dan Manager Production NU Online, Agung Setyo Utomo. Adapun moderator webinar adalah mahasiswi KPI angkatan 2023, Takhlisha Dhiya Auni.
Narasumber Tekankan Peran Strategis Humas
Sepanjang diskusi, para pembicara mengupas tuntas peran humas yang amat strategis ketika krisis menerpa sebuah lembaga. Mulai dari cara merespons isu, menyusun narasi media, memilih diksi yang tepat, hingga menentukan sudut pandang pemberitaan agar tidak memperburuk keadaan.
Pada sesi pertama, Lukman Hakim menyoroti pentingnya kehati-hatian media dalam memakai istilah yang bersifat mutlak seperti “haram” atau “halal”, kecuali memang merujuk pada fatwa ulama dengan sumber yang jelas. Menurutnya, tanggung jawab media adalah memperluas perspektif publik secara bijak, bukan sekadar menghakimi.
“NU Online tidak pernah membuat fatwa atau hukum sendiri dalam sebuah berita. Kami menjelaskan isu secara umum, lalu menghubungkannya dengan pandangan ulama yang kredibel,” ujar Lukman.
Ia juga mengingatkan bahwa krisis merupakan ujian terhadap kepercayaan publik. Yang paling diingat masyarakat, kata dia, justru cara lembaga merespons krisis—bukan semata kesalahan awal yang terjadi. Karena itu, media maupun humas wajib mengedepankan verifikasi, menghadirkan narasumber ahli, serta menjaga kualitas informasi agar tidak mengecewakan publik.
“Dalam dunia digital, semua orang bisa menyebarkan informasi. Tetapi tidak semua orang mampu menjaga kepercayaan,” tegasnya.
Tiga Jam Pertama: Masa Kritis Merespons Isu
Sementara itu, Agung Setyo Utomo menjelaskan bahwa konten krisis berbeda dengan konten biasa karena sarat tekanan waktu dan dinamika internal. Menurut dia, tiga jam pertama setelah isu muncul menjadi jendela paling krusial dalam membentuk persepsi publik.
“Jika satu jam setelah krisis tidak ada respons, maka ruang kosong informasi akan diisi pihak lain, dan belum tentu bernada positif,” jelas Agung.
Ia juga menyoroti pentingnya pilihan diksi dan elemen visual dalam komunikasi krisis. Desain yang sederhana, font yang mudah dibaca, serta distribusi informasi melalui media sosial menjadi faktor kunci agar pesan cepat sampai ke masyarakat.
“Visual yang tepat dapat meningkatkan perhatian pembaca hingga 80 persen. Namun, kecepatan tetap harus diimbangi dengan informasi yang terverifikasi agar tidak menjadi bumerang,” tambahnya.
Selain itu, Agung mengingatkan agar sebelum merespons sebuah isu, lembaga perlu mengukur sebesar apa dampak isu tersebut. Respons yang berlebihan terhadap isu kecil justru berisiko memperluas perhatian publik secara tidak perlu.
Melalui webinar ini, WPRC berharap peserta mampu memahami strategi komunikasi krisis, menjaga reputasi lembaga, serta membangun kepercayaan publik di tengam derasnya arus informasi digital yang serba cepat.