Boyolali, kabarnujateng.com – Suasana persahabatan dan geliat pergerakan di Pondok Pesantren Nurul Qur’an, Boyolali, selama empat hari diisi dengan diskusi, simulasi, dan internalisasi nilai-nilai keilmuan. Sebanyak 38 anggota dari berbagai komisariat dan rayon di seluruh Indonesia hadir sebagai peserta.
Mereka tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Raden Mas Said Cabang Sukoharjo yang mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD) tahun 2026 dari Kamis-Ahad (22-25/1/2026).
Pelatihan dengan tema “Ilmu adalah Cahaya, Kesadaran adalah Jalan, dan Tindakan adalah Kewajiban” ini dirancang sebagai ruang ideologisasi dan konsolidasi untuk membentuk kader penggerak yang militan dan kritis.
Sebagai jenjang kaderisasi formal tahap kedua setelah Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA), PKD bertujuan mentransformasi anggota menjadi kader yang tidak hanya aktif, tetapi juga mampu membaca realitas, mengorganisir, dan mengaktualisasikan nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dalam konteks keindonesiaan.
Kegiatan resmi dibuka pada Kamis (22/1/2026) pagi. Ahmad Riyanto, Ketua Panitia, mengingatkan pentingnya menjaga etika dan mendobrak stigma negatif tentang kader PMII. “Kita harus lebih disiplin,” tegasnya.
Ketua Komisariat, Irfan Nurkholis menekankan bahwa PKD merupakan ruang berproses yang mendalam.
“Semoga ini menjadi ruang untuk berproses dan mendalami ilmu-ilmu, lalu mengimplementasikannya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum PC PMII Sukoharjo, Muhammad Azkal Abid, berharap para peserta kelak mampu menjadi ‘kader mujahid’.
Sohibul Bait, Kiai Darmadji, memberikan perspektif luas tentang peran kader di era modern. “PMII hari ini harus melahirkan kader yang berkompeten di berbagai ranah, seperti wirausahawan atau ahli sains,” paparnya.
Selama empat hari, peserta menerima materi yang padat dan komprehensif, meliputi fondasi ideologis hingga keterampilan praktis gerakan.
Materi-materi tersebut adalah:
1. Aswaja Sebagai Haluan Organisasi
2. Nilai Dasar Pergerakan
3. Paradigma PMII
4. Analisis Sosial dan Rekayasa Sosial
5. Analisis Wacana dan Media Representatif Gender
6. Analisis Kebijakan Kampus dan Pengelolaan Ruang Strategis Akademik
7. Strategi Pengembangan PMII Berbasis Potensi Akademik dan Orientasi Profesi
8. Nahdatun Nisa’
9. Strategi Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi
10. Manajemen Aksi
Materi-materi itu diberikan untuk membekali kader dengan kesadaran dan kapasitas gerakan yang matang.
Pelatihan ini tidak hanya berisi ceramah. Menurut laporan panitia, momen paling berkesan adalah diskusi hidup dan dinamis antara peserta dan pemateri. Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga aktif menganalisis isu, melakukan simulasi aksi massa, serta terlibat dalam Focus Group Discussion (FGD) dan review materi.
“Materinya bagus dan sangat bermanfaat. Pelatihan ini inklusif, dan ilmu-ilmu ini berguna bagi seorang kader dalam bergerak dan berpikir,” ujar Joko salah satu peserta, mengapresiasi metode pelatihan yang partisipatif.
Sebagai tindak lanjut, tanggung jawab untuk menjadi kader mujahid ada pada kesadaran masing-masing peserta. Secara kelembagaan, panitia memberikan tugas untuk mereview seluruh materi dan menuangkannya dalam bentuk esai guna mengkristalkan pengetahuan yang telah didapat.
Pelatihan yang berakhir pada Ahad (25/1) siang itu meninggalkan kesan mendalam. Empat hari ‘nyantri’ di pondok pesantren bukan hanya tentang menimba ilmu organisasi, tetapi juga proses internalisasi nilai dalam lingkungan yang khas.
Filosofi ini dirangkum oleh Ketua Komisariat, Irfan Nurkholis, dalam pesan penutupnya: “Nyantri, ngader, nderek kyai.” Sebuah trilogi yang mengisyaratkan proses panjang seorang kader: menimba ilmu, menginternalisasi nilai-nilai pergerakan, dan setia pada garis perjuangan para guru bangsa.
PKD 2026 telah menyalakan cahaya dan membuka jalan. Kini, kewajiban untuk bertindak berada di pundak ke-38 kader baru PMII Komisariat Raden Mas Said. (Muhammad Azka Ulin Nuha)
PMII Komisariat Raden Mas Said Gelar PKD 2026: Langkah Kaderisasi Formal