Klaten – Upaya untuk mewujudkan pesantren sebagai tempat yang semakin ramah anak dan lingkungan sehat, membutuhkan kerjasama semua pihak. Baik dari para santri, guru, dan masyarakat sekitar.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Klaten H Mujiburrahman, pada saat kegiatan penandatanganan kerjasama antara PCNU Klaten dengan Yayasan Al Manshur Popongan, di kompleks halaman Masjid Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten, Ahad (24/8/2025) siang.
“Dulu para masyayikh kita, termasuk masyayikh Popongan, telah meletakan dasar tujuan dalam pelayanan masyarakat. Maka tugas kita sekarang untuk meneruskan perjuangan mereka,” ujarnya.
Dikatakan Mujib, penandatanganan kerjasama Klinik NU Al Manshur ini merupakan kelanjutan dari program yang sudah berjalan kurang lebih dua tahun sebelumnya.
“Berkah haul Mbah Kiai Manshur, semoga bisa dimudahkan dan klinik ini bermanfaat untuk semua,” kata dia.
Ketua Yayasan Al Manshur Popongan Anas Farkhani (Gus Anas) menerangkan selain penandatangan kerjasama dengan PCNU Klaten terkait Klinik NU Al Manshur, juga kerjasama dengan Yayasan Mahargiono Schützenberger Program Indonesia Sehat Jiwa.
“Kegiatan penandatanganan dua kerjasama ini kita selenggarakan sebagai rangkaian kegiatan peringatan haul ke-71 Simbah Kiai Muhammad Manshur,” kata Gus Anas.
Sebelumnya juga telah diselenggarakan acara bedah buku Manaqib Putra KH Muhammad Manshur, khitan massal, semaan Al-Qur’an dan lain sebagainya.
Dalam kegiatan penandatanganan tersebut, turut hadir perwakilan dari Yayasan Mahargiono Schützenberger, Shofia Ambarini. Dalam pemaparannya ia menegaskan peran santri sebagai pelopor kebaikan.
“Dalam konteks melawan perundungan, jadilah pelopor kebaikan. Jangan takut untuk melaporkan apabila mengalami atau melihat tindakan perundungan,” paparnya.
Menurutnya, dalam Islam juga mengajarkan untuk menjaga lisan dan tindakan kebaikan lainnya.
“Mari kita belajar bersama, bagaimana menjadi pribadi yang memiliki empati, tidak hanya santri, tapi juga guru dan masyarakat sekitar,” pungkasnya.
Penulis: Ajie Najmuddin