Wonosobo, kabarnujateng.com – Wakil Ketua Umum DPP Garuda Asacita Nusantara (GAN) Mayjen (Purn) TNI Tri Martono meminta agar tanaman kopi yang baru saja ditanam terus dirawat, dijaga, dan dipelihara. Menurutnya, kopi bukan hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga berfungsi menjaga kelestarian alam.
“Jika tanaman kopi yang ditanam terus dirawat dan dipelihara, pasti akan tumbuh dengan baik. Buah kopi punya nilai ekonomi tinggi dan akarnya bisa menahan erosi serta mencegah bencana tanah longsor,” ujarnya.
Hal itu disampaikan Tri Martono saat menghadiri kegiatan Puncak Musim Tanam 2026, Penanaman Kopi Nusantara yang digelar Jagat Tunas Bumi (Jatubu) di Desa Kupangan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Kegiatan tersebut melibatkan Jatubu, Pemerintah Kabupaten Wonosobo, LMDH, PC GP Ansor, serta pelajar SD dan SMP di Kecamatan Sukoharjo. Penanaman kopi ini menjadi ikhtiar bersama menjaga alam dan merawat bumi nusantara.
Tri Martono mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi kawasan pegunungan Dieng yang minim pepohonan. Menurutnya, jika lereng gunung sepenuhnya menjadi lahan pertanian, hal itu sangat berbahaya bagi kelestarian lingkungan.
“Maka perlu sinergi antara pemerintah daerah dan seluruh stakeholder untuk menghijaukan kawasan pegunungan. Jika semua lereng jadi lahan pertanian, itu bisa memicu longsor dan banjir bandang,” tegasnya.
Ia menambahkan, gerakan penanaman pohon memiliki dua kepentingan besar, yakni menjaga keamanan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Alam yang hijau akan menghindarkan dari bencana, sementara hasil tanaman dapat meningkatkan ekonomi warga.
Tri Martono berharap gerakan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi kesadaran kolektif untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Menurutnya, ancaman perubahan iklim, pemanasan global, erosi, banjir, dan longsor kini semakin nyata.
Alam Rusak, Alam Mengingatkan
Ketua Jatubu, Mantep Abdul Ghoni, menegaskan bahwa gerakan penanaman ini lahir dari kegelisahan melihat kondisi hutan di Wonosobo yang semakin gundul.
“Sebagian besar wilayah hutan di Wonosobo sudah gundul. Banyak lahan pinus berubah jadi pertanian kentang, bahkan ada yang menjadi milik pribadi. Ini harus jadi perhatian bersama,” ujarnya.
Ia menyebut, longsor yang terjadi di berbagai wilayah bukan lagi kejadian biasa, melainkan peringatan serius dari alam.
“Hari ini kita melihat Gunung Kembang longsor 14 hektare, Patakbanteng 1,5 hektare. Itu alarm dari alam. Jangan sampai ada peristiwa ‘pray for Wonosobo’. Alam daerah kita harus diselamatkan bersama,” katanya.
Mantep juga menyoroti bencana banjir dan longsor di kawasan Telaga Menjer hingga luapan Sungai Wangan Aji sebagai bukti nyata dampak kerusakan lingkungan.
“Lebih baik mencegah daripada mengatasi. Melalui penanaman bibit pohon, kami memilih berkontribusi langsung meski dimulai dari langkah kecil,” tegasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan anak-anak menjadi bagian penting dalam membangun budaya menanam sejak dini.
“Menanam itu kewajiban semua umat manusia. Jika sejak kecil sudah dibiasakan, kelak mereka akan peduli menjaga alam agar terhindar dari longsor dan banjir bandang,” pungkasnya.
Pewarta: Muharno Zarka