PCINU Korea Selatan menggelar penyambutan resmi Da’i Ramadhan yang dirangkaikan dengan penandatanganan pakta integritas di kantor sekretariatnya, Senin (16/2/2026). Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya pengabdian para da’i Nahdlatul Ulama selama bulan suci di Negeri Ginseng.
Sebelum seremoni berlangsung, para da’i terlebih dahulu menikmati jamuan makan bersama di sebuah restoran Uzbekistan. Hidangan nasi kebuli daging kambing menjadi menu istimewa yang disajikan sebagai simbol penyambutan sekaligus penguat kebersamaan sebelum menjalankan amanah dakwah.
Acara dibuka oleh pembawa acara dari jajaran pengurus PCINU Korea Selatan. Ketua Panitia Da’i Ramadhan, Bekti Setiawan, dalam sambutannya mengisahkan proses pengurusan visa yang penuh dinamika. Selama sepekan, panitia bekerja tanpa banyak waktu istirahat hingga akhirnya seluruh visa dinyatakan terbit pada Jumat (13/2/2026).
Ia menyampaikan apresiasi kepada para da’i yang telah meluangkan waktu, meninggalkan keluarga, serta bersedia menjalani Ramadhan dan Idul Fitri jauh dari tanah air demi berdakwah di tengah komunitas muslim minoritas.
Sambutan berikutnya disampaikan KH. Khusnul Anshori. Ia mengapresiasi kerja keras panitia dan ketulusan para da’i, serta mengungkapkan rasa syukur atas proses visa yang sempat menegangkan namun berakhir lancar.
Ia juga menjelaskan bahwa sebagian besar masjid di Korea Selatan tidak berbentuk bangunan masjid pada umumnya, melainkan berada di lantai dua atau tiga gedung perkantoran. Meski beberapa memiliki kubah, jumlah jamaah di luar waktu tertentu kerap terbatas. Karena itu, para da’i diminta siap berkhidmah dengan penuh kemandirian.
“Da’i harus meniatkan diri untuk melayani, bukan dilayani,” tegasnya. Ia turut mendorong pengenalan amaliah NU dan Aswaja kepada jamaah, serta dukungan terhadap program-program PCINU, termasuk Lazisnu.
Dalam aspek fikih, KH. Khusnul berpesan agar para da’i menyampaikan pendapat yang ringan, memudahkan, dan membawa maslahat sesuai kaidah fikih aqalliyat. Mengingat mayoritas jamaah merupakan pekerja, pendekatan yang bijak dan membaur lintas generasi menjadi kunci keberhasilan dakwah.
Pesan selanjutnya disampaikan Rois Syuriah PCINU Korea Selatan, Gus Huda Ulin Nuha. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan serta segera melapor apabila mengalami gejala sakit, mengingat perbedaan sistem dan obat-obatan di Korea Selatan. Ia juga mengingatkan agar para da’i menjaga kebahagiaan dalam bertugas.
“Da’i yang bahagia akan mudah menularkan kebahagiaan. Buat jamaah senang dan betah di masjid, bukan hanya saat Ramadhan, tetapi juga setelahnya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa PCINU Korea Selatan akan memfasilitasi penerbitan KARTANU serta menegaskan komitmen untuk terus mengibarkan panji NU di Korea Selatan dalam situasi apa pun.
Sambutan terakhir disampaikan Wakil Katib Syuriah, Kyai Ahmad Syaifullah. Ia menuturkan sejarah perjuangan NU di Korea Selatan bersama Gus Ulin. Menurutnya, kepadatan jamaah biasanya terjadi pada malam Sabtu dan Ahad, sementara hari-hari lainnya relatif sepi, sehingga menuntut kesabaran dan konsistensi dalam berdakwah.
Rangkaian acara ditutup dengan penandatanganan pakta integritas, penyerahan cinderamata, serta kenang-kenangan dari PCINU Korea Selatan kepada para da’i. Perwakilan da’i pun menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan, seraya mengungkapkan bahwa kebersamaan tersebut terasa hangat layaknya keluarga sendiri.