Islam dan Seruan Pencegahan Stunting

Oleh: Umi Hanik, M. Pd *)

Stunting merupakan suatu kondisi malnutrisi atau kekurangan gizi yang terjadi dalam waktu yang lama dan terus-menerus, sehingga menjadi kekurangan gizi yang kronis.

Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2024 menurun menjadi 19,8% berdasarkan hasil Survey Kesehatan Indonesia (SKI). Hal ini menunjukkan progres positif dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 21,5%, atau penurunan sebesar 1,7%.

Secara absolut, jumlah balita yang mengalami stunting juga menunjukkan penurunan yang signifikan. Diperkirakan pada tahun 2023, terdapat sekitar 4,8 juta balita yang mengalami stunting. Namun, pada tahun 2024 angka ini berhasil ditekan menjadi sekitar 4,4 juta balita. Ini berarti lebih dari 357.000 balita telah berhasil dihindari dari status stunting.

Situasi ini dianggap sebagai bukti kuat bahwa Indonesia berada di jalan yang tepat untuk mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2045, yaitu menurunkan prevalensi stunting di bawah 5%.

Berbagai langkah telah diambil untuk mencegah stunting serta segala bentuk malnutrisi dalam masyarakat.

Upaya pencegahan stunting melibatkan dua jenis intervensi: spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik meliputi pemberian ASI eksklusif, penyediaan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi dengan menambahkan makanan yang kaya protein hewani untuk bayi di atas enam bulan, suplementasi zat besi/TTD bagi ibu hamil dan remaja putri, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya, pemeriksaan kehamilan (ANC), serta penyediaan makanan tambahan bagi ibu hamil yang mengalami KEK (Kurang Energi Kronis).

Sementara itu, intervensi sensitif terdiri dari penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak, meningkatkan kesadaran tentang nutrisi seimbang dan pola asuh yang baik, memperkuat ketahanan pangan terutama makanan bergizi untuk ibu hamil dan anak-anak, memperbaiki akses layanan kesehatan, serta pendidikan gizi di sekolah.

Keduanya penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Perlu diingat bahwa intervensi spesifik dan sensitif harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi untuk mencapai hasil terbaik dalam pencegahan stunting.

Islam, sebagai agama yang membawa rahmah bagi segala sesuatu, memiliki tugas untuk menyebarkan ajaran tentang pencegahan stunting. Ini sejalan dengan sebuah Hadits Nabi yang menyarankan umatnya untuk menyampaikan kebaikan meskipun hanya satu ayat. Mengingat masyarakat Indonesia yang religius, pendekatan agama dalam menyampaikan pesan penting mengenai pencegahan stunting sangatlah vital.

Agama Pemelihara Keturunan
Isu kesehatan, termasuk didalamnya isu stunting, tidak dapat dipisahkan dari pesan-pesan agama. Usaha untuk mempercepat penurunan stunting adalah langkah mulia dalam menerapkan maqasid al-syari’ah (tujuan-tujuan syariat Islam). Beberapa tujuan tersebut meliputi; hifdh al-nafs (perlindungan jiwa/hak hidup), hifdh al-aql (perlindungan akal/hak berpikir bebas), hifdh al-nasl (perlindungan keturunan/hak atas kesehatan reproduksi), hifdh al-din (perlindungan agama/hak beragama), dan hifdh al-mal (perlindungan kekayaan/hak atas harta benda).

Islam sebagai agama yang menjaga kelangsungan keturunan atau hifdh al-nasl, memikul tanggung jawab untuk menjamin agar setiap generasi memiliki kesehatan yang optimal, baik secara lahir maupun batin, termasuk mencegah stunting.

Pencegahan stunting merupakan sebuah langkah untuk melindungi diri, keluarga, komunitas, dan bangsa dari bahaya (dlarar). Hal ini sejalan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an, di mana Islam mengajarkan agar kita tidak membiarkan generasi yang lemah muncul dan harus merancang generasi yang tangguh.

Dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 9, ditekankan pentingnya mempersiapkan generasi penerus yang kuat dan bertakwa. Kita tidak boleh membiarkan generasi di bawah kita menjadi lemah. Kelemahan di sini memiliki makna yang sangat luas; karena Al-Qur’an menginginkan pemahaman yang bersifat umum, mencakup kelemahan dalam aspek akidah, syariat, fisik, psikologis, sosial, ekonomi, dan lain-lain.

Langkah pencegahan ini sangat penting, karena sebagai manusia, kita tidak seharusnya meninggalkan warisan pada planet ini atau sebagai ruang sosial kepada individu yang tidak memiliki kemampuan yang memadai.

Untuk menyampaikan pesan-pesan pencegahan stunting kepada masyarakat, beberapa solusi perlu diimplementasikan.

Diantaranya; Pertama, membekali kader-kader dengan pengetahuan mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada 1000 HPK. Hal ini dilakukan agar kader tersebut meneruskan pengetahuan yang didapat kepada keluarga, sesama pengurus di organisasi, bahkan di masyarakat dimana ia tinggal.

Kedua, aktif melakukan kampanye mengenai isu stunting. Baik melalui pertemuan tatap muka maupun platform digital yang dimiliki. Seperti melakukan webinar, live youtube, live instagram, podcast, maupun talkshow di radio ataupun televisi. Sebab tidak hanya dunia nyata, namun dunia maya lebih banyak dijelajahi manusia saat ini. Sehingga penyampaikan pesan-pesan kunci pencegahan stunting melalui semua platform media menjadi penting.

Ketiga, pembekalan pada daiyah dan pimpinan pesantren. Hal ini diharapkan agar pesan-pesan sampai kepada jama’ahnya. Kebanyakan masyarakat Indonesia lebih percaya apa yang disampaikan pemuka agama mereka dari pada apa yang disampaikan pemerintah melalui instansi terkait.

Keempat, aktif berkolaborasi dengan pemerintah terkait. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan efektivitas program dan kebijakan, mendorong transparansi dan partisipasi publik, serta mempercepat pembanguna. Selain itu, kolaborasi juga memungkinkan pemanfaatan sumber daya yang lebih baik dan memperkuat hubungan antar berbagai pihak.

Dari pembahasan ini dapat kita simpulkan bahwa kehidupan kita tidak hanya berakhir pada diri kita sendiri. Namun akan diteruskan ke generasi yang akan datang. Maka, mendidik mereka agar bisa menjadi khalifatullah fil Ardl dan memberikan kebanggaan kepada Rasulullah pada hari kiamat merupakan tanggung jawab kita sebagai pendahulu, dengan memastikan mereka terhindar dari stunting dan berbagai bentuk malnutrisi lainnya.

Oleh: Umi Hanik, M. Pd
Wakil Sekretaris IV PW Fatayat NU Jateng  dan PIC Program Kerjasama Fatayat-UNICEF

WhatsApp Hubungi Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *