Hantavirus dari Tikus Mengancam, Seberapa Siap Indonesia?

Jakarta – Munculnya kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius telah memicu kekhawatiran global terhadap penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat (rodensia). Di tengah berbagai ancaman penyakit menular dunia, Indonesia dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi virus yang kerap luput dari perhatian publik ini.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa sejauh ini telah dilaporkan delapan kasus hantavirus di kapal MV Hondius, termasuk tiga kematian. Lima dari delapan kasus tersebut telah dikonfirmasi positif hantavirus.

Tedros menjelaskan bahwa virus yang terlibat adalah virus Andes, satu-satunya spesies hantavirus yang diketahui mampu menular secara terbatas antar manusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan.

WhatsApp Hubungi Kami

“Meskipun ini adalah insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah,” ujarnya dilansir WHO pada Jumat (8/5/2026).

Namun, pernyataan tersebut tidak lantas membuat ancaman hantavirus bisa dianggap sepele, terutama bagi Indonesia yang masih bergulat dengan persoalan sanitasi, kepadatan permukiman, serta tingginya populasi tikus di kawasan perkotaan dan daerah padat penduduk.

Bukan Wilayah Bebas Hantavirus

Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), KD Puspa, mengingatkan bahwa Indonesia bukanlah wilayah bebas hantavirus. Menurutnya, virus tersebut telah lama ditemukan di Nusantara sejak dekade 1980-an.

“Banyak orang mengira hantavirus adalah penyakit langka dari luar negeri. Indonesia bukanlah wilayah bebas hantavirus sebab virus ini telah lama ada, bahkan sejak tahun 1980-an,” ujarnya dikutip dari laman Kemenkes.

Ia mengungkapkan bahwa penelitian di berbagai kota besar menemukan seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, dari setiap sepuluh orang, setidaknya satu orang pernah terpapar virus tersebut meskipun tidak pernah terdiagnosis.

Ancaman Tersembunyi yang Kerap Tak Disadari

“Dalam Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging—penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya,” katanya.

Puspa menjelaskan bahwa virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, atau air liur tikus, kontak langsung dengan hewan pengerat, luka terbuka pada kulit, serta permukaan yang terkontaminasi.

“Seseorang tidak perlu digigit tikus untuk tertular. Cukup berada di lingkungan dengan banyak tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi,” jelasnya.

Pendekatan One Health dan Perilaku Bersih

Ia menambahkan bahwa kasus hantavirus menunjukkan pentingnya pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Puspa juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kebersihan lingkungan dan memperkuat integrasi dengan program sanitasi yang telah berjalan.

“Masyarakat perlu memahami bahwa menyapu rumah yang penuh debu tikus tanpa perlindungan bisa menjadi risiko infeksi,” katanya.

“Pendekatan ini dapat disinergikan dengan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), program kesehatan lingkungan, serta pengendalian zoonosis,” lanjutnya.

Dengan tingginya potensi paparan dan rendahnya kesadaran publik, Indonesia dituntut untuk segera memperkuat sistem deteksi, edukasi, dan pengendalian hantavirus sebelum ancaman ini berubah menjadi wabah yang lebih serius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *