Wonosobo, kabarnujateng.com
Stabilitas politik, ekonomi dan sosial di tanah air kini sedang tidak baik-baik saja. Aksi anarkisme, melemahkan kondisi ekonomi masyarakat dan tali sosial yang pudar, menjadi acaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia di masa depan.
Mensikapi kondisi tersebut, maka pegiat Gusdurian Wonosobo menggelar doa bersama lintas iman dan sarasehan di Taman Selomanik setempat, Jumat lalu (5/9/2025), malam. Acara tersebut diikuti tokoh Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, aliran kepercayaan dan Konguchu.
Doa bersama lintas iman dan sarasehan yang mengangkat tema “Menghidupkan Kembali Nilai Utama Gus Dur untuk Indonesia”, itu menghadirkan pembicara Idham Cholid (mantan Ketua DPRD Wonosobo dan anggota DPR RI yang juga aktifis mahasiswa 1998) dan Ibnu Khotob (mantan Ketua PC GP Ansor dan eks anggota DPRD Wonosobo).
Di sela-sela acara dilakukan doa bersama untuk keselamatan bangsa. Doa bersama disampaikan Pendeta Setiaji (Kristen), Romo Widyo (Katholik), Romo Lukito (Budha), Made (Hindu), Kiai Ahsan (Islam), Puji (penghayat aliran kepercayaan) dan Cik Titin (Konghucu).
Usai doa bersama, para tokoh agama juga mencium bendera merah putih sebagai simbol nilai universal tentang makna penghormatan, toleransi dan harmoni sesuai yang telah diteladankan Gus Dur.
Idham Cholid menyampaikan Gus Dur memiliki 9 nilai utama yang menjadi pedoman hidupnya, yakni ketahuidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan, kesederhanaan, kesatriaan dan kearifan tradisi.
“Ketauhidan merupakan wujud beriman kepada Allah sebagai sumber segala sumber dan rahmat kehidupan. Nilai ini menjadi poros bagi nilai-nilai ideal yang diperjuangkan Gus Dur,” katanya.
Adapun sikap kemanusiaan, lanjutnya, adalah upaya untuk memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat dan menghargai martabat manusia.
“Sikap keadilan harus diperjuangkan untuk menciptakan keseimbangan dan kepantasan dalam masyarakat. Gus Dur rela mengambil tanggung jawab untuk menciptakan keadilan di masyarakat,” tutur dia.
Setiap manusia, menurut Idham, juga harus memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Gus Dur memperjuangkan kesetaraan dan menentang diskriminasi antar umat beragama.
“Manusia memiliki tanggung jawab untuk membebaskan diri dari berbagai bentuk belenggu. Gus Dur mendorong tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka. Masyarakat dapat hidup damai tanpa intoleransi,” tegas Idham.
Perjuangan Gus Dur
Adapun persaudaraan, kata dia, menjadi dasar untuk memajukan peradaban. Gus Dur menjunjung tinggi persaudaraan antarumat beragama dan antaretnis. Mereka harus bisa hidup guyup rukun dan saling menghormati.
“Sifat Kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap berlebihan dan materialistis. Gus Dur hidup sederhana dan menjadi teladan. Kesederhanaan adalah sikap keseharian Gus Dur,” tuturnya.
Gus Dur, sebut Idham, juga memiliki keberanian untuk memperjuangkan nilai-nilai yang diyakininya. Beliau mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses.
“Gus Dur mampu menggerakkan kearifan tradisi dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik. Gus Dur juga mempromosikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan berdasarkan nilai-nilai tradisi Indonesia,” tandasnya.
Sementara itu, Ibnu Khotob menambahkan Wonosobo tidak sekadar menjadi daerah yang mengenang Gus Dur, tetapi juga menjadi tempat untuk meneruskan perjuangannya.
“Yakni membumikan demokrasi dengan wajah kerakyatan, spiritualitas, realitas, dan kearifan lokal untuk mewujudkan surga di bumi ini,” tegasnya.
Ditambahkan Ibnu, hadirnya Gusdurian tentu menjadi wasilah mempererat rasa dan empati terhadap sesama dalam wujudnya saling jaga. Momen ini menjadi implementasi toleransi yang berbasis kesetaraan.
“Duduk sejajar samarata dengan saling bertegur sapa, ngobrol meskipun masih terbatas waktu tetapi ini bentuk nyata dari toleransi itu sendiri,” jelasnya.
Pihaknya berharap kegiatan ini menjadi titik point dan sumbangsih pemikiran berupa tindakan kecil kepada negara dalam kaitannya kebergamanan.
Praktek-praktek kebersamaan inilah, papar Ibnu, yang akan merajut dan memperkuat persatuan bangsa tanpa menyisakan embel-embel provokasi yang menyusup.
“Semoga bangsa kita, umat beragama di Wonosobo khususnya, bisa bersatu melawan provokasi yang merusak keharmonisan beragama di manapun berada,” tandasnya.
Koordinator Gusdurian Wonosobo, Nayunda Bella Mahardiani, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berbangsa terlebih di saat kondisi negeri sedang tidak baik-baik saja.
“Diskusi tentang melahirkan kembali nilai utama Gus Dur di Wonosobo menegaskan bahwa warisan pemikiran dan praksis Gus Dur bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan energi moral yang terus hidup,” katanya.
Penulis: Muharno Zarka
Kuatkan Nilai Utama Gus Dur, Gusdurian Wonosobo Gelar Sarasehan dan Doa Bersama Lintas Iman