Media Ponpes Se-Jateng Gelar Pertemuan, Perkuat Kerja Sama Dakwah Digital

Semarang – Media Pondok Pesantren Jawa Tengah (MPJT) mengadakan pertemuan bertajuk “Temu Media Pondok Pesantren” dengan tema “Menata Langkah, Menguatkan Arah Dakwah di Era Digital”. Acara ini berlangsung di Pondok Pesantren Fadlul Fadlan, Wanareja, Mijen, Kota Semarang, pada Sabtu (16/5/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 300 santri yang mengelola media di lingkungan pesantren, berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Para peserta memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari penulis, fotografer, videografer, hingga pengelola media sosial. Ketua Media Pondok Jateng, Muhammad Mukromin, melaporkan bahwa antusiasme para santri cukup tinggi, terbukti dengan hadirnya delegasi dari lebih dari 100 pondok pesantren se-Jawa Tengah, termasuk dari wilayah Cilacap, Brebes, Solo Raya, hingga eks-Keresidenan Pati.

KH Ahmad Fadlullah Turmudzi, Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini. Menurutnya, seiring dengan meningkatnya jumlah pesantren pasca UU Pesantren, penguatan literasi dan infrastruktur informasi menjadi sangat penting. Ia berharap pertemuan ini dapat melahirkan standar dakwah siber yang ramah, berkarakter, serta tetap menjaga sanad keilmuan pesantren ala Ahlussunnah wal Jamaah.

WhatsApp Hubungi Kami

Sementara itu, Kepala Biro NU Online Jawa Tengah, Lukman Hakim, menegaskan bahwa media sosial saat ini sudah menjadi arena pertarungan opini yang sesungguhnya. Ia mengakui bahwa kelompok di luar NU kerap lebih terorganisasi dan masif dalam memanfaatkan algoritma media untuk menyebarkan narasi yang tidak jarang menyerang amaliah warga Nahdliyin. Lukman menilai kelemahan selama ini adalah kurangnya konsolidasi dan masih adanya ego sektoral. Oleh karena itu, forum ini diharapkan menjadi momentum peralihan besar untuk berkolaborasi, bukan lagi sekadar bersaing soal jumlah pengikut.

Lukman juga menekankan bahwa media pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk citra publik terhadap Islam pesantren. Masyarakat awam menilai pesantren dari apa yang mereka lihat di ponselnya. Dengan konten kreatif yang dihasilkan, para santri diajak menunjukkan bahwa Islam pesantren itu ramah, sejuk, mendidik, dan penuh toleransi.

Di akhir sambutannya, Lukman mengajak seluruh pengelola media pesantren untuk mengintegrasikan dakwah digital dengan gerakan filantropi, melalui kolaborasi bersama NU Online Jateng dan NU Care-LAZISNU. Diharapkan dari kegiatan ini tercipta ekosistem media pesantren yang kuat, kolaboratif, dan mampu menyebarkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah secara lebih luas di era digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *