Pati – Pada acara Ngaji Budaya bertajuk “Jawa Njawani, Lesbumi Ngrukti” di Pati, Ketua PCNU Pati KH Yusuf Hasyim mengajak masyarakat untuk bersyukur menjadi bagian dari umat Islam. Acara itu diselenggarakan di halaman Langgar Makam Mbah Wiro Padi, Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil. KH Yusuf menyampaikan bahwa meskipun umat Islam tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW, kita beruntung telah memiliki iman dan Islam. Ia menggarisbawahi bahwa tradisi Jawa justru telah lama berbaur dengan ajaran Islam sejak abad ke-7. Nilai sopan santun, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan disebut sebagai warisan luhur yang sejajar dengan tuntunan Islam. KH Yusuf memberikan apresiasi kepada Lesbumi dan masyarakat Desa Pasucen yang aktif menjaga tradisi keagamaan. Ia berharap tradisi lokal dapat terus menjadi media dakwah dan pelestarian budaya.
Menurut KH Yusuf, adat istiadat Jawa tidak bertentangan dengan ajaran Islam melainkan saling menguatkan. Ia mencontohkan bahwa “unggah-ungguh” dan norma sosial yang dijunjung tinggi di Jawa sejalan dengan nilai Islamiyah. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada warga Pasucen atas dukungan terhadap penyelenggaraan acara. KH Yusuf juga menyebut bahwa peringatan Maulid Nabi dalam tradisi lokal mampu menyatukan masyarakat. Ia menegaskan bahwa Lesbumi seharusnya memicu orang Jawa untuk lebih “nJawani” dalam menghayati budaya dan agama. Penguatan identitas Jawa Islam menjadi tema sentral dalam acara tersebut. Kehadiran kegiatan ini diharapkan ikut memperkokoh persatuan umat Islam di Pati. Pesan itu disampaikan di tengah suasana penuh keakraban dan kebersamaan.
Ketua Lesbumi PCNU Pati, Arif Khilwa, ikut memberi pandangan bahwa Maulid Nabi bukan sekadar seremoni keagamaan. Menurutnya, peringatan tersebut juga merupakan warisan budaya bangsa yang kaya makna. Ia menyampaikan bahwa masuknya Islam ke Nusantara berlangsung melalui dialog budaya dan seni lokal, bukan melalui penghapusan tradisi. Arif mencontohkan terbang Jawan dan Gong Cik sebagai media yang menyatukan seni lokal dan dakwah Islam. Ia menegaskan bahwa tradisi lama tak perlu dihilangkan — melainkan diaktualisasikan dalam bingkai agama. Dalam konteks itu, Lesbumi dianggap sebagai jembatan yang mempertemukan budaya Jawa dan nilai Islam. Arif mengajak masyarakat untuk menjaga warisan itu secara konsisten. Ia berharap kegiatan serupa terus digelar agar tradisi dan agama berjalan selaras.
Acara Lesbumi di Pati juga didukung oleh berbagai lembaga internal NU. Kerja sama antara Lesbumi PCNU Pati dengan Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNNU), Lembaga Dakwah NU (LDNU), dan ranting setempat menjadi basis pelaksanaan kegiatan. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi, turut digelar pagelaran seni dan penghargaan kepada pelestari budaya dari Pati dan daerah sekitarnya. Terbang Jawan Klasik dan seni bela diri Gong Cik menjadi bagian dari rangkaian hiburan yang dikolaborasikan dengan pesan dakwah. Sekaligus kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi para tokoh NU, seniman, dan masyarakat umum. Para tokoh yang hadir termasuk Wakil Ketua Lesbumi PBNU Anis Sholeh Ba’asyin dan tokoh lokal Pati. Kehadiran mereka memperkuat makna kebersamaan dalam melestarikan seni budaya Islam Jawa. Acara dikemas menarik agar tidak hanya religius tetapi juga bernuansa budaya.
Pernyataan KH Yusuf Hasyim mendapat sambutan hangat dari warga dan pengunjung acara. Banyak dari mereka menunjukkan antusiasme terhadap pesan persatuan dalam kerangka budaya dan agama. Kehadiran tokoh lokal dan nasional mengerek nilai strategis acara ini dalam agenda dakwah NU Pati. Rangkaian kegiatan juga mencerminkan upaya NU untuk menjaga identitas budaya lokal di tengah tantangan modernisasi. Penyelenggaraan Lesbumi menjadi model bagaimana organisasi Islam bisa membumikan nilai agama melalui tradisi. Partisipasi warga dalam menyukseskan acara dianggap sebagai bukti dukungan terhadap visi itu. Pesan penting acara ini adalah bahwa umat Islam hendaknya terus bersyukur, menjaga tradisi yang baik, dan memperkuat ukhuwah.
Dengan digelarnya Lesbumi “Jawa Njawani, Lesbumi Ngrukti” di Pati, NU menunjukkan cara dakwah yang menghargai akar budaya. KH Yusuf dan Arif Khilwa menyampaikan bahwa keberkahan menjadi bagian dari umat Islam harus disertai tanggung jawab pelestarian nilai. Tradisi lokal tidak dianggap asing, melainkan sebagai kekayaan dakwah jika dipahami dan direkatkan dengan ajaran Islam. Kegiatan itu sekaligus menjadi panggung kebudayaan Islam Jawa yang mengundang perhatian lebih luas. NU Pati berharap model seperti ini dapat direplikasi di daerah lain agar lebih banyak masyarakat yang merasakan identitas kebangsaan dan keagamaan secara seimbang. Lesbumi kini menjadi wadah rekonsiliasi spiritual dan budaya dalam kehidupan sosial. Acara ini diharapkan terus berlanjut sebagai warisan dakwah dan kebudayaan di masa depan.