Haul KH Muhammad Siroth di Kedungjati, Rais Syuriah PWNU Jateng: Kiai Punya Peran Besar dalam Merawat Persatuan

(Grobogan) – Dalam acara Haul ke-82 KH Muhammad Siroth yang juga dirangkai dengan peletakan batu pertama Masjid Jannah di Dusun Deras, Kedungjati, Grobogan, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, memberikan tausyiah di hadapan jamaah. Acara berlangsung pada Selasa siang (5/5/2026).

Dalam ceramahnya, Mbah Ubaid sapaan akrabnya menekankan betapa pentingnya peran para kiai, terutama kiai kampung, dalam menjaga kerukunan umat, menciptakan ketenteraman, serta melestarikan ajaran Islam yang penuh rahmat dan kasih sayang.

Mbah Ubaid mengaku kagum dengan suasana Dusun Deras yang letaknya cukup terpencil. Bahkan ia sempat bergurau, apakah daerah itu masih termasuk wilayah Indonesia, mengingat jauhnya dari pusat kota. Namun justru menurutnya, kehidupan di desa seperti ini memiliki berkah tersendiri, karena warga hidup cukup dan nilai kebersamaannya sangat kuat.

WhatsApp Hubungi Kami

Ia juga menceritakan bahwa selama dirinya mengabdi sebagai pengurus PWNU Jawa Tengah, sudah lebih dari 500 Majelis Wakil Cabang (MWC) yang didatanginya, termasuk hingga ke Pulau Nyamuk di Karimunjawa yang memerlukan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan. Hal ini menunjukkan, kata dia, bahwa NU punya komitmen kuat untuk terus membimbing umat sampai ke pelosok mana pun.

Masih dalam tausyiahnya, KH Ubaidullah mengutip pernyataan Kepala BIN, Muhammad Herindra, yang mengapresiasi keteguhan para kiai NU dalam merawat persatuan dan kedamaian masyarakat. Tanpa kehadiran kiai kampung, tegas Mbah Ubaid, bangsa ini bisa mengalami kemerosotan moral yang lebih parah.

Dia pun memberi contoh nyata peran ulama dalam meredakan ketegangan sosial. Misalnya saat pasca Bom Bali, ketika banyak pedagang dari luar daerah dilarang berjualan karena situasi keamanan yang superketat. Hal itu sempat memicu konflik. Namun berkat mediasi Kiai Nurhadi dari Demak, situasi akhirnya bisa diatasi.

KH Ubaidullah juga menyebut peran ulama pada zaman agresi militer Belanda. Sejumlah kiai di Lirboyo, katanya, mengambil senjata peninggalan Jepang lalu menyerahkannya kepada pejuang Indonesia di Surabaya sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan.

Secara khusus, ia mengenang KH Muhammad Siroth sebagai ulama yang sangat istiqamah membimbing umat, karena kecintaannya yang besar kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada masyarakat. Ia juga mengingatkan para jamaah agar bersyukur hidup di desa yang jauh lebih tenteram dibandingkan kota yang serba mahal dan penuh tekanan batin.

“Inti dari ajaran Islam adalah rasa sayang dan welas asih. Jangan mudah iri, suka menghasut, atau merasa paling pintar, karena amalan seperti itu tidak bakal diterima,” ujar Mbah Ubaid.

Di akhir tausyiah, ia mengajak masyarakat untuk meramaikan masjid dan menjaga hati agar selalu dekat dengan rumah-rumah ibadah. Menurutnya, salah satu kemuliaan yang besar adalah memelihara kebersihan masjid sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *