SEMARANG, kabarnujateng.com – Langit Indonesia, termasuk Jawa Tengah, diprediksi akan menampilkan purnama istimewa pada Rabu (5/11/2025) malam. Ketua Lembaga Falakiyah (LF) PWNU Jawa Tengah, KH Basthoni, menjelaskan bahwa fenomena tersebut dikenal sebagai supermoon atau secara ilmiah disebut full moon-perigee. Pada momen ini, Bulan berada pada fase purnama sekaligus berada sangat dekat dengan Bumi (perigee), sehingga tampak sedikit lebih besar dan lebih terang dari biasanya.
“Orbit Bulan itu elips, sehingga jaraknya ke Bumi berubah-ubah. Pada 5 November ini, jaraknya sekitar 356.980 kilometer atau sekitar 99,7 persen dari titik terdekatnya,” terangnya. Perbedaan jarak ini membuat diameter tampak Bulan sedikit lebih besar, diprediksi mencapai sekitar 33,47 menit busur, dibanding rata-rata 31 menit busur.
Meski demikian, Kiai Basthoni menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak berpengaruh pada penentuan awal bulan Hijriah.
“Dalam hisab dan rukyah, yang diperhatikan adalah hilal, yaitu bulan sabit awal bulan. Supermoon di fase purnama ini bersifat astronomis dan tidak berkaitan dengan penetapan awal bulan Islam,” jelasnya.
Menurutnya, supermoon justru menjadi kesempatan baik untuk edukasi ilmu falak dan literasi astronomi umat. “Ini momentum untuk mengenalkan orbit Bulan, konsep perigee-apogee, fase Bulan, dan pentingnya pengamatan langit dalam tradisi Islam,” imbuhnya.
Bagi masyarakat yang ingin mengamati, Kiai Basthoni memberikan panduan. Lokasi terbaik adalah area dengan horizon timur terbuka, terutama saat Bulan terbit setelah Maghrib sekitar pukul 18.00–19.00 WIB.
“Saat Bulan berada rendah di horizon, efek ilusi optik membuatnya tampak lebih besar. Ini waktu yang menarik untuk menikmati dan memotret,” paparnya.
Ia juga menyarankan penggunaan lensa tele, ekspos cepat, dan menempatkan obyek foreground seperti gedung atau pepohonan untuk menambah kesan dramatis.
“Jika langit cerah dan minim polusi cahaya, pemandangan purnama akan sangat memukau,” katanya.
Untuk wilayah Semarang, ia merekomendasikan dua waktu terbaik pengamatan: Selasa (4/11) pukul 17.00–18.30 WIB saat Bulan mulai terbit, dan Rabu (5/11) pukul 19.30–21.00 WIB mendekati puncak purnama pukul 20.19 WIB Bulan sudah cukup tinggi dan terang.
Arah pandang: Timur–Tenggara saat terbit, beranjak ke Selatan saat malam, lalu ke barat menjelang terbenam. (Kurva lintasan dan azimut dari data lokal).
Pemotretan: gunakan focal panjang (tele/zoom), ekspos singkat (1/125–1/500 s, ISO rendah), dan komposisi foreground di dekat horizon untuk menguatkan kesan “besar”.
“Selain menikmati keindahannya, mari jadikan peristiwa ini sarana meningkatkan kecintaan pada ilmu. Falak adalah warisan intelektual Islam yang harus terus dirawat,” pungkasnya.