Peringati Harlah ke-103 NU Hijriah, MWCNU Majenang Gelar Refleksi, Istighotsah, dan MWCNU Award

Cilacap, kabarnujateng.com – Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Majenang menggelar refleksi, istighotsah, dan pemberian piagam penghargaan bertajuk MWCNU Majenang Award dalam rangka tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-103 NU versi Hijriah (1344–1447 H). Kegiatan tersebut berlangsung di GOR SMK Diponegoro, Jalan Raya Pahonjean, Cibeunying, Majenang, Kabupaten Cilacap, Ahad (25/1/2026).

Ketua MWCNU Majenang, KH Salamun HS, menyampaikan bahwa peringatan Harlah NU menjadi momentum refleksi atas khidmah Nahdlatul Ulama bagi umat, bangsa Indonesia, dan kemanusiaan.

“Terima kasih kepada para kiai, pengurus lembaga dan banom, para kepala sekolah dan madrasah, serta pimpinan perguruan tinggi se-Majenang Raya yang telah berkhidmah di NU. Sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT, kami menghadirkan 70 tumpeng yang disertai doa istighotsah untuk kemaslahatan NU, bangsa Indonesia, dan kemanusiaan,” ujar KH Salamun yang juga Ketua STKIP Majenang.

Ia menegaskan bahwa MWCNU Majenang merupakan salah satu pilar kekuatan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Cilacap. Dengan basis jamaah yang besar, Majenang kerap disebut sebagai “kota metropolitan”-nya NU di wilayah Cilacap Barat.

“NU Majenang ini jamaahnya terbanyak, LP Ma’arifnya terbesar, Muslimatnya juga terbesar di Cilacap. Secara nasional, sekitar 56,90 persen umat Islam adalah warga NU. Maka dengan kekompakan, NU harus menjadi sumber kekuatan dan pelayanan kemaslahatan, tidak hanya bagi Nahdliyin, tetapi juga untuk seluruh kemanusiaan,” jelasnya.

Rais Syuriyah MWCNU Majenang, KH Khamid Alwi, dalam pidato refleksinya menyampaikan rasa syukur atas panjangnya khidmah NU yang terus dirasakan hingga kini dalam mewujudkan kemerdekaan dan peradaban demi pelayanan kepada umat.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga membacakan sejarah kepemimpinan MWCNU Majenang sejak awal berdiri hingga sekarang, sekaligus menyerukan agar perjuangan NU terus dilestarikan sebagai amanah para ulama.

“Amanah bagi kita semua untuk meneruskan silsilah barakah dari jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang didirikan para ulama shalihin. Keberkahan itu kita rasakan sampai hari ini, maka silsilah barakah harus diteruskan kepada generasi setelah kita,” tuturnya.

Ketua Panitia kegiatan, Kusnana, menjelaskan bahwa pada momentum Harlah ke-103 NU, MWCNU Majenang memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang dinilai berjasa besar dalam perjuangan NU.

“MWCNU Majenang Award diberikan kepada KH Tahrir Pahonjean, Ketua Ansor pertama Majenang, serta KH Taufikul Manan Azhar (63) dari Desa Ujungbarang, atas dedikasi dan khidmahnya dalam membimbing umat. Khidmah mereka sangat membekas dan membawa kemaslahatan umum,” tegasnya.

Istighotsah dipimpin oleh Katib MWCNU Majenang, KH Hizbullah Huda, dan diikuti ribuan jamaah Nahdliyin se-Majenang. Istighotsah diawali dengan pembacaan syahadatain sebagai ikrar ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Syahadatain adalah pintu gerbang untuk mencapai mardhotillah. Puncak tujuan seorang muslim adalah hidup dalam keberkahan,” ujar Gus Huda, Pengasuh Pesantren Al Mahdi Sindangsari.

Acara berlangsung khidmat dan ditutup dengan doa bersama, pemotongan tumpeng, serta makan bersama seluruh jamaah. Kegiatan ini turut dihadiri Forkopimcam Majenang, camat, unsur TNI-Polri, serta para kepala desa se-Kecamatan Majenang. (IHA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *